RADARTUBAN - Kemudahan belajar secara otodidak di era digital membuat relevansi pendidikan tinggi jenjang Magister atau S2 kerap dipertanyakan.
Sebagian orang menilai pengalaman kerja lebih praktis dibandingkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun, pandangan berbeda disampaikan dr. Tirta Mandira Hudhi melalui tayangan di kanal YouTube Malaka Project.
Baca Juga: Pendidikan Bukan Cuma Mengejar Gelar, Pandji Pragiwaksono Soroti Kompetensi dan Ruang Tumbuh Anak
Menurut dokter sekaligus pebisnis tersebut, pendidikan S2 tidak semata-mata berkaitan dengan gelar atau ijazah, tetapi juga proses membentuk pola pikir dan mengevaluasi diri.
Bagi dr. Tirta, pendidikan lanjutan dapat menjadi ruang untuk seseorang memahami kembali tujuan yang ingin dicapai, termasuk bagaimana menyikapi ambisi di tengah tuntutan karier dan kehidupan.
“Diperbudak oleh ambisi! To be grateful, pentingnya kita salat, penting untuk menghentikan ambisi Anda,” ujar dr. Tirta.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya mengendalikan ambisi dan tetap memiliki ruang untuk bersyukur.
Menurut pandangan yang disampaikan dalam tayangan tersebut, tekanan untuk terus mencapai target dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan dalam menjalani kehidupan.
S2 Bukan Hanya soal Teori
Pendidikan magister tidak hanya memberikan materi akademis yang lebih mendalam.
Prosesnya juga menuntut mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menganalisis persoalan secara lebih terstruktur.
Kemampuan tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara target yang realistis dengan ekspektasi yang justru berpotensi menimbulkan tekanan berlebihan.
Karena itu, melanjutkan pendidikan S2 dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas perspektif.
Seseorang tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Proses tersebut menjadi semakin relevan bagi profesional yang ingin memperdalam keahlian atau mengembangkan kapasitasnya di bidang tertentu.
Perluas Jejaring Profesional
Selain pengembangan kemampuan akademis, lingkungan pendidikan S2 juga dapat menjadi ruang untuk membangun jaringan profesional atau networking.
Mahasiswa biasanya datang dari latar belakang pendidikan maupun pekerjaan yang beragam.
Interaksi tersebut dapat membuka peluang pertukaran pengalaman, kolaborasi, hingga hubungan profesional yang dapat berkembang setelah masa studi selesai.
Jejaring tersebut menjadi salah satu nilai tambah yang tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui pembelajaran secara mandiri.
Pada akhirnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 merupakan pilihan yang perlu disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing individu.
Bagi sebagian orang, pengalaman kerja mungkin menjadi prioritas, sementara bagi lainnya pendidikan lanjutan dapat menjadi bagian dari pengembangan karier.
Dalam pandangan dr. Tirta, nilai pendidikan magister tidak berhenti pada gelar yang diperoleh.
Proses belajar, pembentukan pola pikir, pengembangan kemampuan analitis, serta jejaring yang dibangun selama studi juga menjadi bagian dari manfaat yang dapat dibawa ke dunia profesional. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari