RADARTUBAN - Laut Banda menyimpan salah satu struktur dasar laut yang menarik perhatian dalam kajian geologi.
Di bawah permukaannya terdapat Weber Deep, sebuah cekungan yang diperkirakan memiliki kedalaman sekitar 7,2 kilometer.
Kedalaman tersebut membuat Weber Deep menjadi salah satu cekungan laut terdalam yang dikenal.
Namun, ada hal yang membuat struktur geologi ini berbeda dari sejumlah kawasan laut dalam lainnya.
Baca Juga: Mengenal Suku Bajau Sang Penjelajah Samudera, Mampu Menyelam Belasan Menit Tanpa Oksigens
Weber Deep bukanlah palung laut atau trench seperti Palung Jawa maupun Palung Mariana. Cekungan tersebut terbentuk melalui proses tektonik yang berbeda.
Fenomena ini turut dibahas dalam tayangan kanal YouTube Invoice Indonesia yang mengulas kompleksitas geologi perairan Indonesia timur.
Laut Banda sendiri berada di kawasan Busur Banda atau Banda Arc, salah satu wilayah dengan sistem tektonik yang kompleks.
Kawasan ini terbentuk dari interaksi berbagai lempeng tektonik yang bergerak dan membentuk struktur dasar laut yang beragam.
Menurut penjelasan dalam tayangan tersebut, kedalaman ekstrem Weber Deep berkaitan dengan aktivitas sistem sesar Banda Detachment.
"Di bawah permukaannya terdapat Weber Deep, sebuah cekungan yang mencapai kedalaman sekitar 7,2 kilometer, namun bukan terbentuk sebagai palung laut melainkan akibat penarikan ekstrem pada sistem sesar Banda Detachment di Busur Banda," bunyi narasi dalam tayangan tersebut.
Weber Deep Terbentuk karena Peregangan Kerak Bumi
Banda Detachment merupakan sistem sesar sudut rendah atau low-angle normal fault yang berada di kawasan Laut Banda.
Berbeda dengan palung laut yang umumnya berkaitan dengan proses penunjaman atau subduksi lempeng, pembentukan Weber Deep dikaitkan dengan proses peregangan atau ekstensi kerak bumi.
Dalam proses tersebut, bagian kerak bumi mengalami tarikan akibat aktivitas tektonik.
Pergerakan ini kemudian membentuk struktur patahan dan menyebabkan sebagian wilayah mengalami penurunan sehingga membentuk cekungan yang sangat dalam.
Proses tersebut menjelaskan mengapa Weber Deep dapat mencapai kedalaman ekstrem tanpa harus terbentuk sebagai palung akibat mekanisme subduksi seperti yang terjadi di sejumlah wilayah lain.
Dengan kata lain, kedalaman Weber Deep tidak semata-mata menunjukkan adanya palung, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pergerakan kerak bumi dapat menghasilkan bentuk dasar laut yang berbeda.
Gunung Serua Menjulang dari Dasar Laut
Kompleksitas geologi Laut Banda tidak hanya terlihat dari keberadaan Weber Deep.
Dasar laut di kawasan tersebut juga memiliki struktur gunung api bawah laut yang cukup besar.
Salah satunya adalah Gunung Serua yang berada di Kepulauan Maluku. Dari permukaan laut, Serua terlihat sebagai sebuah pulau.
Namun, jika struktur tersebut diukur dari dasar laut hingga puncaknya, gunung api itu memiliki ketinggian sekitar 3,6 kilometer.
Keberadaan cekungan dalam dan struktur gunung api tersebut menunjukkan betapa dinamisnya kondisi geologi di kawasan Indonesia timur.
Kajian mengenai struktur seperti Weber Deep dan Banda Detachment juga penting untuk memahami sejarah pembentukan kawasan Laut Banda serta aktivitas tektonik yang berlangsung di sekitarnya.
Pemahaman mengenai kondisi geologi tersebut pada akhirnya dapat membantu ilmuwan memetakan karakteristik wilayah tektonik Indonesia timur, termasuk dalam kajian mengenai potensi gempa bumi dan tsunami. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari