RADARTUBAN - Perdebatan publik mengenai apakah agama menghambat perkembangan sains kembali memanas menyusul pernyataan viral akademisi Prof. Suzie Sudarman dalam siniar (podcast) bersama Gita Wirjawan.
Menanggapi polemik tersebut, pendakwah dan pemikir Islam, Ustadz Felix Siauw, angkat bicara dan menegaskan bahwa sains dan agama tidak pada posisi yang saling menegasikan, melainkan memiliki ranah dan fungsi yang harmonis dalam memandang kebenaran.
Pernyataan ini disampaikan Ustadz Felix melalui kanal YouTube pribadinya dalam video berjudul "Does Religion Really Hinder Science?", merespons beragam pro dan kontra di tengah masyarakat.
Menurutnya, konflik antara sains dan agama sejatinya lahir dari keterbatasan cara pandang manusia, bukan dari hakikat ajaran itu sendiri.
Baca Juga: Benarkah Ada Reinkarnasi dalam Islam? Ustaz Firanda Ungkap Penjelasannya
"Sains adalah membaca ayat kauniyah, sedangkan agama adalah meresapi ayat qauliyah," ujar Ustadz Felix dalam videonya.
Dia menjelaskan lebih lanjut bahwa ayat kauniyah merujuk pada tanda tanda kebesaran Tuhan melalui alam semesta yang dipelajari lewat metode ilmiah.
Sementara itu, ayat qauliyah merupakan firman atau pedoman wahyu yang diturunkan kepada manusia. Keduanya, kata dia, bersumber dari Zat yang Maha Esa sehingga mustahil saling bertentangan secara hakiki.
Isu mengenai hubungan agama dan sains ini belakangan menjadi sorotan hangat netizen setelah memicu diskusi luas di berbagai platform digital.
Sejumlah pihak berargumen bahwa dogmatisme keagamaan terkadang membatasi kebebasan berpikir ilmiah, sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa nilai-nilai spiritual justru menjadi fondasi moral bagi kemajuan sains.
Ustadz Felix berharap masyarakat dapat melihat persoalan ini dengan kepala dingin dan kejernihan berpikir, tanpa harus terjebak pada dikotomi palsu antara ilmu pengetahuan modern dan keyakinan beragama.
"Perselisihan antara sains dan agama sejatinya lahir dari keterbatasan mata manusia dalam memandang, bukan dari hakikat kebenaran itu sendiri," pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni