RADARTUBAN — Hewan liar yang terlihat tenang setelah diselamatkan manusia belum tentu memahami bahwa dirinya sedang ditolong.
Perilaku tersebut dapat berkaitan dengan respons stres, kondisi fisik, dan cara hewan menghadapi situasi yang mengancam keselamatannya.
Saat terjebak dalam jaring, pagar, atau lumpur, hewan liar dapat mengalami tekanan fisik dan fisiologis yang tinggi.
Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Wildlife Research pada 2018 menemukan bahwa rusa yang terjerat pagar dan mengalami tabrakan kendaraan menunjukkan kadar hormon stres kortisol lebih tinggi dibandingkan rusa yang mengalami luka tembak dalam kondisi penelitian tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa jenis trauma dan gangguan setelah kejadian dapat memengaruhi respons stres satwa.
Ketika manusia mendekat untuk menyelamatkannya, hewan tersebut bisa meronta, melawan, atau berusaha melarikan diri.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Batam Diduga Dipicu Hewan Liar, PLN Masih Selidiki Penyebabnya
Namun, perilakunya dapat berubah ketika kelelahan, rasa takut, atau keterbatasan gerak memengaruhi kemampuannya untuk bereaksi. Karena itu, ketenangan mendadak tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa hewan memahami niat penolongnya.
Kanal YouTube Franz membahas bagaimana perbedaan gerakan manusia dan predator dapat memengaruhi respons hewan liar terhadap situasi di sekitarnya.
"Otak mencari di seluruh perpustakaan tanda ancamannya dan kembali kosong tanpa adanya pola yang dikenali untuk merespons," jelas kanal YouTube Franz.
Penjelasan tersebut merupakan analogi tentang cara hewan menanggapi ancaman, bukan bukti bahwa otaknya benar-benar berhenti bekerja atau mengalami kebingungan seperti yang dialami manusia.
Respons setiap satwa dapat berbeda, bergantung pada spesies, kondisi tubuh, dan pengalaman sebelumnya.
Meski demikian, ada sejumlah peristiwa penyelamatan yang memperlihatkan interaksi menarik antara satwa dan manusia.
Pada Desember 2005, seekor paus bungkuk yang terjerat tali perangkap kepiting di dekat Kepulauan Farallon, California, berhasil dibebaskan oleh tim penyelamat.
Setelah terlepas, paus tersebut berenang mendekati para penyelam dan menyentuh mereka menggunakan tubuhnya.
Peristiwa itu memunculkan dugaan bahwa paus tersebut sedang menunjukkan rasa terima kasih.
Baca Juga: Terdesak Deforestasi dan Perburuan, Satwa Endemik Sulawesi Berada di Ambang Kepunahan Massal
Namun, perilaku tersebut tidak cukup untuk memastikan emosi yang dirasakan satwa. Interaksi itu juga dapat berkaitan dengan eksplorasi, respons sosial, atau reaksi setelah terbebas dari tekanan.
Pada akhirnya, belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa semua hewan liar memahami tindakan penyelamatan sebagaimana manusia memahaminya.
Meski begitu, perilaku satwa menunjukkan bahwa respons mereka terhadap lingkungan jauh lebih kompleks daripada sekadar naluri melarikan diri.
Memahami respons tersebut menjadi bagian penting dalam upaya penyelamatan dan perlindungan satwa liar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni