Kemarin (7/8) pagi hingga sore, ribuan pesilat PSHT dari Tuban dan Bojonegoro memadati sepanjang Jalan Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan. Mereka menuntut polisi bertindak adil dan tegas terhadap pelaku pelemparan tersebut.
Seperti diketahui, insiden pelemparan batu bermula saat para pendekar yang mengawal rombongan pesilat dari Bojonegoro hendak pulang. Rombongan tersebut baru saja bertamu di Kecamatan Singgahan untuk melakukan tradisi Suroan.
Setibanya di sekitar Jembatan Kedungjambe, Kecamatan Singgahan, tiba-tiba terjadi lemparan banyak batu dari tepi jalan. Akibat lemparan batu tersebut, S, inisial seorang pesilat jatuh terkapar dengan luka parah di mata kanan.
Pendekar lain yang mengawal rombongan langsung mengamankan satu terduga pelaku yang sembunyi di semak-semak. Pelaku ini dibawa ke Polsek Singgahan dan selanjutnya diserahkan ke Satreskrim Polres Tuban.
Belakangan, polisi membantah kabar diamankannya seorang terduga pelaku.
‘’Belum ada pelaku yang diamankan, masih dalam penyelidikan petugas,’’ kata Kasi Humas Polres Tuban Iptu Jamhari.
Menanggapi aksi ribuan warga PSHT yang menggeruduk Desa Kedungjambe, Kecamatan Singgahan, Jamhari memastikan situasi berjalan aman dan kondusif.
Dia mengatakan, kedatangan para pendekar tersebut sudah diredam Kapolres Tuban AKBP Rahman Wijaya bersama Ketua Cabang PSHT Tuban Lamidi.
‘’Para pendekar yang datang sepakat untuk kembali pulang dan memercayakan kasus ini kepada kepolisian, semua berjalan kondusif,’’ ujarnya.
Terkait tuntutan teman-teman seperguruan korban yang ingin kasus pelemparan tersebut diusut tuntas, mantan kepala Unit Turjawali Satlantas Polres Tuban ini memastikan penyelidikan kasus tersebut masih berlanjut.
Dia mengimbau teman-teman korban untuk tidak terprovokasi dan menanggapi kasus tersebut dengan kepala dingin.
‘’Semua harus menanggapi dengan kepala dingin, jangan mudah terpancing emosi,’’ imbaunya. (yud/ds) Editor : Amin Fauzie