RADARTUBAN-Polisi menemukan tabung helium beserta selang mengarah ke kantong plastik yang membungkus kepala mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Unair Surabaya yang tewas di dalam mobil bernopol AG 1484 BY yang terparkir di halaman apartemen Jalan H. Anwar Hamzah, Desa Tambak Oso, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur pada Minggu (5/11) pagi.
Dikutip dari Antara, Kanit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Waru Ajun Komisaris Polisi Ahmad Yani tidak menyebut korelasi tabung helium dengan kematian korban berinisial CA, 21, asal Kediri, Jawa Timur.
Dokter James Hutchinson dari Royal Society of Chemistry dalam artikelnya yang dimuat di health.indozone.id, menerangkan, helium lebih ringan dari udara. Karena itu, gas tersebut dapat dikombinasikan dengan oksigen untuk menghasilkan campuran yang membantu pernapasan.
Helium juga dipakai penyelam laut untuk membantu bernapas di bawah air. Meski memberikan ragam manfaat dan relatif aman, kata dia, jika helium terhirup secara berlebihan akan berdampak pada kesehatan. Termasuk kematian.
Belum diketahui pasti bagaimana tabung helium tersebut terhubung dengan selang dan mengarah ke kantong plastik yang membungkus kepala. Apakah korban sengaja melakukan atau dipasang orang lain untuk meracuni? Sampai kini belum ada penjelasan.
Selain tabung helium berikut selang dan kantong plastik, Ahmad Yani menyebut di dalam mobil juga ditemukan sepucuk surat wasiat berbahasa Inggris. Juga sejumlah barang pribadi milik korban seperti telepon genggam dan kartu identitas diri.
Dia mengatakan, surat berbahasa Inggris tersebut ditujukan kepada orang tua, sahabat, dan orang terdekat korban. Yani enggan mengungkapkan isi surat tersebut lantaran masih diselidiki.
Hingga kini polisi belum memastikan penyebab kematian CA karena autopsi jenazah korban masih berlangsung.
"Nunggu autopsi dulu, belum tahu penyebab meninggalnya korban," ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unair Surabaya, Murni Lamid mengaku terkejut dengan kabar duka yang terjadi pada mahasiswanya tersebut.
Dia mengatakan, CA saat ini sedang menjalani program pendidikan dokter hewan, yaitu program co-asistensi dan sekarang akan memasuki pada divisi.
"Saya cukup kaget dan deg-degan ini tadi. Saya nangis dari tadi itu karena ini berita yang mendadak dan kami merasa dengan adanya berita ini kami sangat terpukul sekali," ujarnya.
Menurut Murni, korban CA dikenal memiliki kepribadian yang baik dan mempunyai banyak teman dan sahabat.
CA berada di kelompok 41, yang pada Senin (6/11) akan menjalani program co-asistensi di divisi parasitologi.
"Saya dapat berita dari keluarganya bukan dari polisi. Katanya di rumah sakit (kamar jenazah) itu tidak ada siapa-siapanya, cuma dua orang tante dan om, kemudian satu dosen dari kampus, sedangkan yang lainnya tidak ada," katanya.
Rencananya, jenazah CA dipulangkan ke kampung halamannya di Kediri untuk dimakamkan setelah autopsi rampung.(ds)