RADARTUBAN - Sosok sopir truk yang diduga menjadi penyebab kecelakaan beruntun di Tol Cipularang kini menjadi sorotan publik.
Insiden tersebut terjadi pada Senin, (11/11) di KM 92 Tol Cipularang, Purwakarta, yang melibatkan belasan kendaraan yang saling bertabrakan, menyebabkan kerusakan parah.
Sopir truk tersebut bernama Rouf, yang terlihat syok dan mencoba menenangkan diri di pinggir jalan usai kecelakaan.
Rouf diketahui tinggal di rumah sederhana berdinding bambu di Desa Seuat Jaya, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten. Dia tinggal bersama istri, Tunah, dan lima anaknya yang masih kecil. Selain itu, Rouf juga bertanggung jawab menghidupi kakaknya yang lumpuh.
Dalam video yang diunggah oleh akun media sosial, Tunah terlihat menangis dan meminta pertolongan setelah mendengar suaminya terlibat dalam kecelakaan horor tersebut. Dia menceritakan bahwa keluarganya hidup dalam kondisi ekonomi sulit dan tinggal di rumah mertua karena rumah mereka tidak layak huni.
"Suami saya tidak tahu apa-apa. Tolong bantu kami," kata Tunah dengan suara terisak. Dia juga menyebutkan bahwa beberapa bulan sebelum kecelakaan, Rouf sempat memperbaiki truk yang mengalami masalah rem blong di area Tol Cipularang.
Kecelakaan beruntun tersebut terjadi ketika truk yang dikemudikan Rouf, yang bergerak dari Bandung menuju Jakarta, melaju di jalan yang menikung dan menurun.
Polisi menduga Rouf kurang mengantisipasi kondisi jalan dan akhirnya menabrak beberapa kendaraan yang sedang melaju pelan karena adanya antrian.
Truk yang dikemudikan Rouf mengalami rem blong, dan diduga persneling truk berada pada gigi yang terlalu tinggi untuk medan menurun, yang menyebabkan kecelakaan.
Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan berencana memeriksa Rouf setelah kondisinya membaik. Rouf kini masih dirawat di rumah sakit.
Pakar keselamatan berkendara, Sony Susmana, mengingatkan pentingnya penerapan aturan kecepatan di ruas jalan tersebut, khususnya untuk kendaraan besar seperti truk dan bus, mengingat kondisi jalan yang menurun dan cuaca yang tidak menentu.
"Aturan kecepatan di rute Bandung-Cikampek harus ditegakkan untuk menghindari kecelakaan serupa," ujarnya.
Kecelakaan ini menjadi pengingat bagi pentingnya keselamatan berkendara dan perhatian terhadap kondisi kendaraan, terutama saat melintasi medan jalan yang berbahaya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama