RADARTUBAN – Musim semi tahun 2026 di Tampa, Florida, diwarnai tragedi pembunuhan keji yang menimpa dua mahasiswa doktoral University of South Florida (USF), Zamil Lemon (27) dan Nahida Sultana Bristie (27). Kasus ini menjadi sorotan luas karena melibatkan perencanaan kriminal berbasis kecerdasan buatan (AI) oleh tersangkanya.
Dikutip dari kanal YouTube Dark Asia with Megan, tragedi bermula pada 16 April 2026 saat kedua korban berhenti merespons panggilan telepon. Zamil terakhir terlihat di apartemennya, sementara Nahida terekam kamera keamanan kampus di siang hari.
Kecurigaan polisi menguat setelah barang pribadi Nahida, seperti laptop dan kotak bekal, ditemukan masih tertinggal di meja kerjanya. Pihak keluarga secara resmi mengajukan laporan orang hilang pada 17 April.
Penyelidikan sinyal ponsel dan kamera lalu lintas menunjukkan pergerakan mencurigakan pada malam hilangnya korban. Mobil milik Hisham Abu Garbier, salah satu teman sekamar Zamil, terekam melaju ke arah Clearwater.
Pada malam yang sama, Hisham memesan kantong sampah, tisu disinfektan, dan pewangi ruangan via layanan pesan antar. Sinyal ponselnya juga terekam melintasi Jembatan Howard Frankland sebanyak dua kali pada dini hari.
Baca Juga: PMI Asal Aceh dan Bayinya Jadi Korban Pembunuhan di Malaysia Motif Masalah Utang
Kasus ini dialihkan ke Kantor Sheriff Hillsborough County pada 22 April. Ibunda Hisham memberikan kesaksian bahwa putranya memiliki riwayat kekerasan. Selain itu, Zamil rupanya sempat mengajukan keluhan resmi ke pihak kampus terkait Hisham dua minggu sebelum menghilang.
Pada 23 April, polisi menggeledah tempat pembuangan sampah apartemen dan menemukan barang bukti krusial seperti keset berlumuran darah, casing ponsel Nahida, serta pakaian penuh darah.
Pengungkapan tragis terjadi pada 24 April saat tim penyidik menemukan sisa-sisa jasad Zamil di dalam kantong sampah hitam di sekitar Jembatan Howard Frankland dengan kondisi tubuh terpotong.
Dua hari kemudian, jasad Nahida ditemukan oleh pemain kayak dalam kantong sampah serupa yang tersangkut di hutan bakau.
Pemeriksaan forensik digital pada perangkat Hisham mengungkap bahwa ia telah merencanakan aksi ini sejak awal April. Ia berulang kali bertanya kepada chatbot AI mengenai cara menyembunyikan mayat di kantong sampah dan tempat penampungan sampah, serta legalitas kepemilikan senjata.
Temuan ini mendorong Jaksa Agung Florida memasukkan kasus tersebut ke dalam investigasi kriminal terhadap OpenAI. Hisham kini ditahan tanpa jaminan dengan ancaman hukuman mati atas dua dakwaan pembunuhan tingkat pertama. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni