RADARTUBAN — Meksiko dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan keindahan alam, namun di saat yang sama harus berhadapan dengan ketimpangan sosial yang besar serta ancaman jaringan kejahatan terorganisir.
Negara ini menjadi salah satu wilayah yang paling terkenal dengan keberadaan kartel narkoba terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Dilansir dari YouTube DW Dokumenter, geng narkoba Meksiko terhubung dalam jaringan perdagangan global yang membentang dari Amerika Selatan, Asia, Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Oseania. Selama puluhan tahun, pemerintah Meksiko berupaya menghentikan aktivitas penyelundupan, kekerasan, dan korupsi, namun aksi kejahatan ini tak kunjung berhasil diberantas.
Narkoba diselundupkan keluar Meksiko menuju Amerika Serikat melalui berbagai modus, mulai dari terowongan bawah tanah, kontainer kargo, hingga dimanfaatkan lewat tubuh manusia (mule). Sebaliknya, dari arah Amerika Serikat, ribuan senjata api justru mengalir masuk ke Meksiko.
Baca Juga: Trump Undang Presiden Meksiko dan PM Kanada Tonton Final Piala Dunia 2026
Di wilayah-wilayah termiskin, kartel narkoba gencar merekrut anak-anak muda dengan mengiming-imingi status sosial dan kehidupan yang lebih baik.
Penelitian pada tahun 2023 mencatat sekitar 175 ribu orang masuk dalam rantai perdagangan narkoba, menjadikan sektor ilegal ini menyumbang porsi ekonomi informal yang signifikan.
Padahal, upaya pemerintah untuk memberantas kartel telah menelan biaya yang sangat fantastis, yakni sekitar 4,9 triliun peso (sekitar Rp 4.216 triliun) pada tahun 2023.
Tingginya angka kekerasan akibat aktivitas kartel ini sangat mengerikan. Sepanjang tahun 2024 saja, tercatat ada 15 kasus pembunuhan di Doctor Coss, meningkat dari tahun 2023 yang mencatat 23 kasus. Secara nasional, rata-rata sekitar 30 ribu orang tewas setiap tahunnya—setara dengan 87 orang kehilangan nyawa setiap hari.
Tingginya angka korban jiwa tersebut utamanya dipicu oleh mudahnya akses terhadap senjata api kelas militer, mulai dari AK-47, AR-15, senjata kaliber .50, hingga granat.
Peneliti lulusan Universitas Harvard, Marco, menjelaskan bahwa ketiadaan payung hukum formal dalam bisnis ilegal ini memaksa para pelaku menggunakan jalur kekerasan.
"Karena hukumnya ilegal, mereka tidak bisa mengandalkan negara. Akibatnya, kekerasan atau setidaknya ancaman dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menjaga kesepakatan," ungkapnya.
Jaringan narkoba lintas negara ini juga mengingatkan pada sejarah kelam Kolombia, ketika Pablo Escobar dan Kartel Medellín menguasai seluruh pasar kokain.
Saat itu, kokain diselundupkan dari Kolombia menggunakan kapal dan pesawat melewati wilayah Karibia hingga masuk ke Florida Selatan, Amerika Serikat.
Perang melawan kartel narkoba di Meksiko bukan sekadar persoalan hukum, melainkan masalah krisis kemanusiaan dan ekonomi yang kompleks.
Selama ketimpangan sosial, kemiskinan, dan kemudahan akses senjata api masih terjadi, lingkaran kekerasan kartel akan terus menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi muda di Meksiko. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube DW Dokumenter