RADARTUBAN - Misteri hilangnya remaja perempuan berinisial MOS (17) sejak Juni 2025 terkuak secara tragis pada September 2026.
Korban yang awalnya pamit mengembalikan laptop teman ditemukan tewas dengan kondisi tinggal kerangka di dalam karung di lereng semak-semak area jalan tol Kota Semarang.
Terkuak dari Jejak Media Sosial
Aparat kepolisian berhasil membongkar kasus pembunuhan ini berkat kejelian keluarga korban. Pihak keluarga mendatangi polisi membawa ponsel orang tua yang masih terhubung dengan akun media sosial milik MOS.
Baca Juga: Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan Mozza, Kerangka Korban Ditemukan di Lereng Tol Jangli
Dari akun tersebut, terungkap riwayat pesan singkat intens antara korban dan seorang pemuda berinisial Ferry (22).
Berdasarkan petunjuk komunikasi digital itu, polisi melacak tempat indekos pelaku di Semarang hingga akhirnya menangkap Ferry di Kota Blora, Jawa Tengah, saat menyaksikan pertandingan olahraga.
Usai ditangkap, Ferry mengakui perbuatannya dan menunjukkan lokasi pembuangan jasad. Petugas gabungan yang menyisir lereng tol Semarang menemukan karung berisi kerangka manusia tersangkut di pepohonan.
Dipicu Cemburu dan Motif Asmara
Tim forensik mengonfirmasi identitas jasad melalui pemeriksaan antropologi dan odontologi forensik.
Hasil pencocokan rekam medis gigi, termasuk ciri khas gigi gingsul dan bekas tambalan memastikan kerangka tersebut adalah MOS.
Autopsi juga menemukan tanda kekerasan tumpul pada leher yang menjadi penyebab utama kematian.
Pemeriksaan sementara menunjukkan pembunuhan dipicu adu mulut akibat rasa cemburu setelah pelaku memeriksa ponsel korban di rumah indekos.
Pertengkaran berujung penganiayaan hingga MOS tewas. Dalam kondisi panik, pelaku memasukkan jasad korban ke karung dan membuangnya ke lereng tol untuk menghilangkan jejak.
Kematian MOS meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Korban dikenal berprestasi dan baru saja diterima di perguruan tinggi negeri impiannya, kabar bahagia yang tak sempat dia ketahui.
Ayah korban menyampaikan terima kasih atas penanganan intensif pihak kepolisian hingga kasus terungkap tuntas.
Dokter spesialis forensik, dr. Stephanie, mengimbau pentingnya keterbukaan dalam keluarga serta kewaspadaan terhadap relasi di media sosial.
"Kebohongan kecil bisa membuat orang terdekat kita kehilangan informasi penting ketika sesuatu yang buruk terjadi atas diri kita," tutur dr. Stephanie dalam kanal youtubenya.
"Bertemu sendirian dengan seseorang yang dikenal melalui media sosial tetap membutuhkan kewaspadaan. Cemburu apapun alasannya itu bukan bukti cinta, apalagi kalau sudah berubah jadi kemarahan dan tindak kekerasan," lanjutnya.
Atas tindakan penganiayaan berat hingga menewaskan korban, pelaku Ferry kini harus menjalani proses hukum dan terancam sanksi pidana sesuai ketentuan undang-undang yang berlaku. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari