RADARTUBAN - Belakangan ini, ungkapan "Jangan ya Dek ya" mendadak populer dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.
Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak, mulai dari warganet biasa hingga influencer dan artis ternama. Lantas, apa sebenarnya maksud dan asal usul dari ungkapan ini?
Asal Usul Jangan ya Dek Ya Mendadak Viral
Dikutip dari berbagai sumber, tren "Jangan ya Dek ya" bermula dari konten yang diunggah oleh pemilik akun TikTok bernama Zhio Butto Pink. Dalam videonya, Zhio membuat konten dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan acak kepada sekelompok anak sekolah.
Ketika anak-anak tersebut kebingungan menjawab, Zhio mengucapkan "Jangan ya Dek ya" dengan logat medok khasnya, mengisyaratkan bahwa pertanyaan tersebut hanyalah gurauan.
Konten ini kemudian viral dan menyebar ke platform media sosial lainnya seperti Instagram dan X (Twitter).
Makna dan Konteks Penggunaan
Penggunaan istilah ‘Jangan ya Dek ya’ biasanya digunakan oleh orang dewasa ketika menghimbau orang yang lebih muda.
Dilansir dari berbagai sumber, frasa ini merupakan kalimat sugesti atau bujukan yang ditujukan untuk mengingatkan anak-anak atau orang yang lebih muda agar menghindari hal-hal negatif.
Namun, dalam postingan akun TikTok bernama Zhio Butto Pink justru dijadikan sebagai candaan. Ungkapan "Jangan ya Dek ya" melawan konteks yang sudah umum sehingga menarik perhatian banyak orang.
Penyebaran dan Dampak
Viralnya ungkapan ini di media sosial menunjukkan bagaimana sebuah frasa sederhana dapat dengan cepat menjadi fenomena budaya pop.
Banyak warganet berlomba-lomba membuat konten serupa, bahkan publik figur seperti Fadil Jaidi dan Arafah turut meramaikan tren ini.
Fadil Jaidi, misalnya, mengunggah video di mana ia menjahili adiknya dengan pertanyaan-pertanyaan acak, mengikuti format yang dipopulerkan oleh Zhio.
Konten ini mendapat respons ramai dari para pengikutnya, menunjukkan daya tarik dan jangkauan luas dari tren "Jangan ya Dek ya".
Analisis Fenomena Viral
Dikutip dari Communication.uii.ac.id, Lidya Agustina, Peneliti Puslitbang Kominfo, dalam artikelnya "Viralitas Konten di Media Sosial" menjelaskan bahwa penyebab utama suatu konten menjadi viral adalah sharing behavior (like, shares, comments).
Selain itu, adanya emosi dan elemen kejutan (element of surprise) juga berperan penting dalam viralitas sebuah konten.
Fenomena "Jangan ya Dek ya" memenuhi kriteria tersebut. Ungkapan ini mengandung unsur humor yang menghibur sekaligus memiliki makna yang lebih dalam, membuatnya mudah dibagikan dan didiskusikan oleh pengguna media sosial.
Konteks Bahasa Gaul
Seperti halnya "Bersyandya" yang pernah viral sebelumnya, "Jangan ya Dek ya" juga bisa dianggap sebagai bentuk bahasa gaul kontemporer. Merujuk pada riset yang dilakukan Kemendikbud, bahasa gaul adalah bahasa Indonesia yang diucapkan dalam pergaulan sehari-hari untuk mengungkapkan ekspresi diri.
Fenomena ini menunjukkan dinamika bahasa dan budaya populer di era digital, di mana ungkapan sederhana dapat dengan cepat menyebar dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat.
Istilah Viral Lainnya
Selain "Jangan ya Dek ya", beberapa istilah atau ungkapan lain yang pernah viral di media sosial Indonesia termasuk:
1. Mbak Taylor
2. Cek Kodam
3. Pinjam dulu seratus
4. Redflag
5. Greenflag
6. Fickname
Fenomena "Jangan ya Dek ya" menggambarkan bagaimana media sosial dapat menjadi katalis bagi penyebaran tren budaya populer.
Meski berawal dari sebuah candaan, ungkapan ini berkembang menjadi simbol komunikasi yang lebih luas, menunjukkan kekuatan media sosial dalam membentuk dan menyebarkan fenomena bahasa dan budaya kontemporer. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama