RADARTUBAN - Perayaan Imlek di China tak hanya diramaikan dengan angpau dan barongsai, tetapi juga ritual ekstrem yang menantang nyali.
Salah satunya adalah Fan Chichuang, tradisi berguling di ranjang berduri yang dipercaya mendatangkan keberuntungan.
Ritual unik ini masih dilakukan di Provinsi Guangdong, China Selatan, terutama selama perayaan Nianli atau Pesta Tahun Baru Imlek.
Para pria bertelanjang dada akan berguling di atas kawat berduri, diiringi sorak-sorai penonton yang semakin riuh saat luka mulai mengucurkan darah.
Fan Chichuang dimulai dengan menyusun cabang-cabang kawat berduri menjadi tempat tidur yang diletakkan di atas Meja Delapan Dewa, meja makan tradisional Tiongkok.
Dalam kepercayaan lokal, meja ini melambangkan keberagaman bakat dan kekuatan persatuan, serta diyakini dapat meningkatkan hoki bagi peserta yang berhasil melaluinya.
Para pria yang mengikuti ritual ini umumnya berusia muda hingga setengah baya, dengan ketahanan fisik yang kuat.
Mereka rela menahan rasa sakit demi menunjukkan keberanian, karena semakin banyak luka yang didapat, semakin besar keberuntungan yang diyakini akan menghampiri mereka.
Tak hanya itu, jumlah meja yang dilewati juga dianggap berpengaruh terhadap keberuntungan.
Misalnya, susunan 15 meja dalam formasi tertentu melambangkan sheng lu sheng sheng, yang berarti jalan hidup yang makmur.
Semakin banyak meja yang ditaklukkan, semakin besar pula harapan kesuksesan mereka.
Secara historis, Fan Chichuang berakar dari ritual bertahan hidup dan pembuktian diri yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap roh dewa.
Konon, hanya mereka yang dirasuki roh suci yang mampu bertahan dalam tradisi menyakitkan ini.
Meski penuh luka dan memar, para peserta tetap bangga karena dianggap telah menunjukkan ketangguhan dan keberanian.
Tradisi ini terus bertahan sebagai simbol kekuatan dan hubungan spiritual dengan para dewa, meski terlihat ekstrem bagi orang luar. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama