Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Galaksi Ultra-Difus Tunjukkan Rotasi Tak Terduga, Tantang Teori Kosmik

Bihan Mokodompit • Minggu, 2 Maret 2025 | 14:10 WIB
Galaksi Ultra-Difus Tunjukkan Rotasi Tak Terduga
Galaksi Ultra-Difus Tunjukkan Rotasi Tak Terduga

RADARTUBAN - Para astronom baru-baru ini mengungkapkan temuan mengejutkan tentang galaksi ultra-difus (Ultra-Diffuse Galaxies/UDGs), jenis galaksi terkecil dan paling redup di alam semesta.

Dalam sebuah penelitian terbaru, ilmuwan menemukan bahwa hampir setengah dari UDGs yang diamati menunjukkan pola pergerakan bintang yang bertentangan dengan teori pembentukan galaksi yang telah diterima sebelumnya.

 

Dikutip dari Pace pada Jumat (28/2), hasil penelitian ini berpotensi mengubah cara pandang ilmuwan terhadap evolusi dan proses pembentukan UDGs.

Tim peneliti menemukan bahwa sebagian besar galaksi ini menunjukkan rotasi yang tidak sesuai dengan prediksi teori sebelumnya.

Sebelumnya, para astronom berpendapat bahwa galaksi ultra-difus tidak memiliki rotasi yang signifikan karena distribusi massanya yang tidak merata dan rendahnya kepadatan bintang di dalamnya.

Namun, observasi terbaru menunjukkan bahwa beberapa UDGs justru memiliki pola rotasi yang jelas, menantang asumsi sebelumnya tentang dinamika internal galaksi redup ini.

Untuk memahami lebih jauh, para ilmuwan meneliti 30 UDGs dalam gugus galaksi Hydra, yang berjarak lebih dari 160 juta tahun cahaya dari Bumi.

Gugus ini menjadi fokus penelitian karena mengandung banyak galaksi dengan karakteristik unik, memungkinkan para astronom mengidentifikasi perbedaan dan pola baru dalam evolusi galaksi ultra-difus.

Hasilnya, ditemukan bahwa UDGs memiliki tingkat variasi yang tinggi, baik dalam hal komposisi unsur, jumlah materi gelap yang terkandung, hingga pergerakan bintang-bintangnya.

Ini memberikan wawasan baru bahwa UDGs bukanlah satu kelas galaksi dengan karakteristik yang seragam, melainkan memiliki beragam proses evolusi yang belum sepenuhnya dipahami.

 

Tim ilmuwan mengandalkan program pengamatan "Looking into the faintest With MUSE" (LEWIS) dengan menggunakan spektograf medan integral MUSE yang dipasang pada teleskop Very Large Telescope (VLT) di Chili.

Teknologi ini memungkinkan mereka untuk menganalisis gerakan bintang dengan detail tinggi pada galaksi ultra-difus yang sebelumnya sulit diamati dengan instrumen konvensional.

Sejak pertama kali ditemukan pada 2015, galaksi ultra-difus terus menjadi misteri bagi astronom. Studi terbaru ini semakin memperlihatkan betapa kompleks dan uniknya galaksi-galaksi kecil tersebut.

Salah satu objek yang menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini adalah UDG32, galaksi ultra-difus yang terletak di ujung filamen gas yang terhubung dengan galaksi spiral NGC 3314A.

Filamen gas ini merupakan bagian dari struktur kosmik yang lebih besar dan diyakini berperan dalam distribusi gas dan materi antar galaksi.

Salah satu teori yang berkembang menyatakan bahwa UDGs dapat terbentuk dari gas yang terkonsentrasi di dalam filamen ini.

Gas yang cukup padat akhirnya runtuh dan membentuk bintang-bintang, yang kemudian membangun struktur UDGs.

Penempatan UDG32 di ujung filamen gas NGC 3314A diduga bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari proses interaksi gravitasi yang lebih besar.

Studi ini juga menemukan bahwa UDG32 memiliki kandungan unsur berat (logam) yang lebih tinggi dibandingkan UDGs lain dalam gugus Hydra.

Dalam astronomi, "logam" mengacu pada unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium, yang terbentuk melalui reaksi nuklir di inti bintang dan tersebar ketika bintang meledak dalam supernova.

Menariknya, meskipun bintang-bintang di UDG32 tergolong lebih muda dibandingkan dengan yang ada di UDGs lain di gugus Hydra, mereka memiliki kandungan logam yang lebih kaya.

Ini menunjukkan bahwa UDG32 mungkin telah memperoleh gas yang sudah diperkaya unsur berat dari galaksi spiral tetangganya, seperti NGC 3314A.

 

Temuan ini mengindikasikan bahwa interaksi gravitasi dengan galaksi-galaksi besar bisa berperan dalam pembentukan dan evolusi UDGs.

Proses ini dapat terjadi melalui aliran gas dari galaksi spiral yang lebih besar ke dalam UDGs yang lebih kecil, sehingga memberikan mereka karakteristik unik yang tidak ditemukan pada UDGs lain.

Fakta bahwa beberapa UDGs memiliki rotasi yang signifikan dan potensi asal-usul dari galaksi spiral besar membuat para ilmuwan mempertimbangkan ulang teori pembentukan galaksi ultra-difus.

Selain itu, studi ini juga membuka banyak pertanyaan tentang bagaimana interaksi gravitasi, distribusi materi gelap, serta unsur logam berperan dalam evolusi galaksi kecil ini.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara lebih rinci bagaimana galaksi ultra-difus terbentuk, berkembang, dan berinteraksi dengan lingkungan kosmiknya.

Dengan terus menggunakan teknologi canggih seperti VLT dan program LEWIS, para astronom berharap dapat mengungkap lebih banyak fakta yang dapat mengubah cara kita memandang galaksi kecil dan redup di alam semesta ini.

Temuan ini menandai langkah besar dalam eksplorasi kosmik dan menjadi bukti bahwa alam semesta masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk dipecahkan. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Ultra #Astronom #difus #teori kosmik #galaksi