RADARTUBAN - Kalau kamu main ke alun-alun kota-kota di Jawa, coba deh tengok-tengok tengah lapangannya.
Ada kemungkinan besar kamu bakal nemu pohon beringin. Dan kalau beruntung, bukan cuma satu, tapi langsung sepasang—alias beringin kembar.
Di Jogja, jelas terkenal. Tapi di Tuban juga nggak kalah pamor. Dua pohon gede, teduh, berdampingan manis di tengah alun-alun. Bikin adem, bikin syahdu, dan kadang bikin mager pulang.
Tapi beringin kembar ini bukan sekadar dekorasi taman kota, apalagi cuma jadi tempat pepotoan buat caption “nyari keteduhan, bukan pelarian.”
Ada makna filosofis, simbolis, bahkan spiritual di balik kehadirannya. Jadi, yuk mari kita ngobrolin beringin, biar nongkrong di alun-alun makin penuh makna.
Simbol Kekuatan dan Keadilan yang Adem
Pertama-tama, beringin itu bukan pohon kaleng-kaleng. Dia besar, akarnya menjulur kayak nggak kenal kata ‘cukup’, dan usianya bisa lebih lama dari umur hubungan kamu dan mantan yang cuma seumur jagung.
Makanya, beringin sering dilambangkan sebagai kekuatan dan stabilitas.
Dia tahan badai, nggak gampang tumbang, dan daunnya yang rindang bikin suasana adem—baik buat rakyat, maupun buat penguasa yang mau refleksi diri.
Filosofi Jawa: Pemimpin dan Rakyat, Duduk Sama Rendah
Dalam falsafah Jawa, beringin kembar yang ditanam di tengah alun-alun itu bukan asal-asalan.
Ada makna “manunggaling kawula lan gusti”—persatuan antara rakyat dan pemimpin.
Simbol bahwa keduanya punya tempat duduk yang sama di bawah keteduhan yang sama. Nggak ada kursi VVIP, semua bisa nyender bareng di akar yang sama. Adem kan?
Fungsi Sosial: Tempat Nongkrong dengan Tujuan Mulia
Zaman dulu, alun-alun itu bukan cuma tempat main layangan atau jajanan cilok. Itu ruang publik sejati—dipakai buat upacara adat, pengadilan terbuka, sampai rapat penting kerajaan.
Nah, beringin kembar itu semacam “AC alami” di tengah keramaian. Selain teduh, juga jadi tempat mikir, menyepi, atau sekadar duduk sambil nunggu giliran disidang raja (semoga kamu nggak sampai tahap ini).
Sakralitas: Lebih dari Sekadar Tanaman
Kadang, beringin kembar juga dipagari. Bukan biar eksklusif, tapi karena dianggap sakral. Di Jogja misalnya, ada Waringin Kurung di alun-alun utara.
Pohonnya dilingkari pagar besi. Katanya sih, itu bukan cuma pembatas fisik, tapi juga simbol antara dunia profan dan yang sakral. Makanya, banyak yang semedi atau sekadar merenung di situ.
Di Tuban sendiri, walau nggak sefamous Jogja, tapi rasa sakralnya tetap terasa—apalagi kalau datang pas sore menjelang maghrib, pas cahaya matahari jatuh manis di antara ranting.
Jadi, lain kali kalau kamu nongkrong di alun-alun dan lihat beringin kembar, jangan cuma dipandangi kayak mantan yang udah nikah.
Duduklah, resapi maknanya. Karena siapa tahu, di balik keteduhannya, terselip filosofi hidup yang bisa bikin kamu lebih tahan banting, kayak si beringin itu sendiri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama