Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jangan Asal Merayakan Malam Satu Suro Sebelum Tahu Sejarah dan Makna Spiritualnya Ini

Muhammad Rizqi Mustofa Kamal • Jumat, 13 Juni 2025 | 08:05 WIB
Apa itu malam  satu Suro? Yuk, ketahui asal usulnya, tradisi spiritual, dan alasan mengapa malam ini kerap dikaitkan dengan energi mistis.
Apa itu malam satu Suro? Yuk, ketahui asal usulnya, tradisi spiritual, dan alasan mengapa malam ini kerap dikaitkan dengan energi mistis.

RADARTUBAN - Malam satu Suro merupakan malam pertama dalam bulan Suro menurut kalender Jawa, yang bersamaan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Malam ini dipandang sakral oleh banyak masyarakat Jawa karena menandai dimulainya tahun baru Jawa dan juga tahun baru Islam.

Nuansa spiritual yang kuat dan penghormatan terhadap leluhur menjadikan malam ini sebagai momen khusus, sering disambut dengan berbagai ritual.

Berdasarkan berbagai sumber, malam satu Suro dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan perenungan, pembersihan batin, dan memanjatkan doa kepada Tuhan serta leluhur.

Banyak masyarakat menjalani tirakat, menyepi, hingga berziarah ke makam keramat sebagai bentuk spiritualitas dan harapan akan keselamatan serta ketenangan batin sepanjang tahun.

Di samping nilai spiritualnya, malam ini juga kerap dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis.

Di beberapa daerah, malam 1 Suro diyakini sebagai waktu ketika energi gaib meningkat, sehingga masyarakat cenderung menghindari kegiatan seperti pesta, perjalanan jauh, atau memulai usaha baru.

Bagi kalangan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, malam ini menjadi saat istimewa untuk menggelar kirab pusaka—prosesi sakral mengarak benda-benda bersejarah sebagai simbol penghormatan terhadap warisan budaya.

Asal Usul Tradisi Malam 1 Suro

Menurut Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, awalnya malam 1 Suro dirayakan untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa.

Pada masa Kerajaan Demak, Sunan Giri II menyesuaikan kalender Hijriah dengan sistem penanggalan Jawa.

Namun, pencatatan resmi tahun baru Jawa menggunakan sistem kalender Islam terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram.

Pada tahun 1633 Masehi (1555 Tahun Jawa), Sultan Agung menetapkan penggunaan tahun Saka dalam sistem penanggalan baru, menyatukan tradisi Hindu dan Islam demi menjaga persatuan rakyat.

Mulai saat itu, 1 Suro ditetapkan sebagai awal tahun dalam kalender Jawa dan disandingkan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Tradisi seperti haul, ziarah, dan pengajian pun sering dilakukan untuk memperingatinya.

Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Mistis

Kesan mistis pada malam 1 Suro sangat kuat dalam budaya Jawa.

Banyak masyarakat percaya bahwa pada malam ini, batas antara dunia nyata dan dunia spiritual menjadi lebih tipis.

Energi gaib diyakini lebih terasa, sehingga momen ini digunakan untuk melakukan tirakat, tapa bisu, dan ziarah dengan suasana yang hening dan khusyuk.

Pantangan seperti tidak mengadakan pesta, tidak bepergian jauh, atau tidak memulai usaha baru juga menjadi bagian dari tradisi malam ini.

Keyakinan akan kehadiran makhluk halus atau roh leluhur yang berkeliaran membuat masyarakat bersikap lebih hati-hati secara spiritual.

Meskipun tidak semua orang menganut kepercayaan ini, penghormatan terhadap malam 1 Suro tetap dijaga.

Nilai-nilai spiritual dan budaya yang diwariskan turun-temurun menjadikan malam ini sarat akan makna simbolis dan dihormati oleh banyak kalangan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#sultan agung #spiritual #malam satu suro #sejarah #sunan giri #jawa #mataram