RADARTUBAN- Di tengah arus modernisasi yang melanda kehidupan masyarakat Indonesia, sejumlah tradisi leluhur masih bertahan dan dijaga dengan penuh makna.
Salah satunya adalah tradisi menghitung kecocokan pasangan melalui weton dalam budaya Jawa.
Ritual ini dipercaya mampu memberikan gambaran tentang dinamika rumah tangga yang akan dijalani oleh pasangan suami istri.
Berbeda dengan konsep astrologi modern yang mengandalkan tanggal dan bulan lahir semata, dalam Primbon Jawa, perhitungan kecocokan dilakukan dengan menjumlahkan neptu dari hari dan pasaran kelahiran masing-masing pasangan.
Hasilnya akan menunjukkan delapan kemungkinan ramalan: Jodoh, Tinari, Pegat, Ratu, Padu, Sujanan, Pinesthi, dan Topo.
Namun, bagaimana jika hasil perhitungan tersebut menunjukkan angka Topo?
Menurut pemahaman dalam Primbon, Topo menandakan bahwa pasangan tersebut akan menghadapi masa-masa sulit di awal pernikahan.
Hal ini bisa berkaitan dengan tekanan ekonomi, konflik emosional, atau tantangan lainnya yang menguji kekuatan hati kedua insan.
Weton Topo biasanya muncul dari kombinasi angka 4, 13, 22, atau 31.
Kendati terkesan negatif, bukan berarti pasangan dengan hasil Topo tidak akan mampu membangun rumah tangga yang harmonis.
Seperti dijelaskan oleh kanal YouTube @PakarPengasih, hasil Topo bukanlah vonis, melainkan peringatan agar pasangan siap menempuh proses pematangan emosi dan kesabaran.
Primbon Jawa percaya bahwa Topo justru menyimpan potensi kebahagiaan dan keberhasilan di masa depan.
Pasangan yang mampu melewati ujian di awal pernikahan umumnya akan menjadi lebih kuat, saling mendukung, dan memahami satu sama lain dengan lebih dalam.
Seiring berjalannya waktu, pasangan Topo sering kali justru mencapai titik harmoni yang langgeng.
Dengan kata lain, hasil perhitungan weton bukanlah penghalang pernikahan, melainkan refleksi untuk lebih mempersiapkan diri secara mental dan spiritual sebelum mengarungi biduk rumah tangga.
Tradisi weton dalam budaya Jawa mengajarkan bahwa kehidupan berumah tangga adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Meski hasil Topo mungkin menandakan rintangan awal, keberhasilan sebuah pernikahan tetap bergantung pada usaha, komunikasi, dan cinta yang tumbuh dari kedua belah pihak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni