Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Satu Suro dan Laku Spiritual: Tradisi Jawa Menyambut Tahun Baru dengan Tafakur

Alifah Nurlias Tanti • Jumat, 27 Juni 2025 | 23:44 WIB
Apa itu malam  satu Suro? Yuk, ketahui asal usulnya, tradisi spiritual, dan alasan mengapa malam ini kerap dikaitkan dengan energi mistis.
Apa itu malam satu Suro? Yuk, ketahui asal usulnya, tradisi spiritual, dan alasan mengapa malam ini kerap dikaitkan dengan energi mistis.

RADARTUBAN – Bulan Suro, pembuka tahun baru dalam kalender Jawa, bukan hanya perkara penanggalan. Hadir dengan nuansa sunyi, khidmat, dan penuh makna batin.

Di tengah budaya global yang identik dengan pesta dan gegap gempita saat pergantian tahun, masyarakat Jawa justru memilih keheningan dan perenungan.

Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro adalah momen sakral yang dipercaya sebagai titik transisi energi spiritual.

Dalam kosmologi kejawen, tabir antara dunia nyata dan alam gaib diyakini menipis selama bulan ini, menjadikannya waktu yang tepat untuk berintrospeksi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Satfopati, seorang pengamat budaya Jawa, menjelaskan bahwa akar kesakralan Suro terletak pada keyakinan terhadap kuatnya energi spiritual yang memuncak pada periode ini.

“Dalam tradisi Jawa, bulan Suro ini adalah masa ketika orang diminta lebih berhati-hati dalam pikiran dan tindakan. Upacara adat pun dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara alam nyata dan mistis,” tuturnya.

Selama Suro, masyarakat Jawa melaksanakan empat laku utama: tafakur, membersihkan diri, menyucikan batin, dan berbincang atau berdiskusi secara mendalam.

Semua ini dilakukan bukan sekadar sebagai tradisi, tapi sebagai proses penyucian fisik dan spiritual.

Kegiatan spiritual seperti meditasi atau menyepi (bertapa) biasanya dilakukan di tempat sunyi—seperti hutan, tepi sungai, atau lereng gunung.

Di sanalah seseorang berusaha mendengarkan suara batinnya, menjauh dari hiruk-pikuk dunia, demi meraih ketenangan dan keselarasan jiwa.

Ada pula laku sesirih, yaitu menahan makan dan minum sebagai bentuk pengendalian diri agar lebih peka terhadap suara spiritual.

Puncaknya jatuh pada malam 1 Suro, saat yang diyakini sebagai waktu paling ampuh untuk melakukan tapa dan doa.

Banyak orang melakukan ziarah ke tempat-tempat sakral seperti makam leluhur atau situs keramat, berharap menerima petunjuk atau berkah.

Di sisi lain, berbagai pantangan juga dipercaya berlaku selama Suro.

Bepergian jauh, mengadakan hajatan besar seperti pernikahan, atau memulai usaha besar dianggap berisiko karena diyakini energi alam sedang bergolak dan tidak stabil.

Oleh karena itu, banyak keluarga memilih menunda acara penting hingga bulan berikutnya.

Kekuatan spiritual Bulan Suro tidak hanya dirasakan secara sosial, tapi juga religius. Sebagian orang melengkapi laku spiritual dengan puasa, zikir, dan menyendiri untuk menenangkan batin.

Ini bukan sekadar menjalankan ritual, melainkan upaya nyata untuk menjaga diri dari godaan dunia dan membangun koneksi yang lebih dalam dengan Tuhan dan alam semesta.

Bulan Suro menjadi cermin kedalaman budaya Jawa: penuh simbol, makna batin, dan penghormatan pada siklus hidup.

Dalam diamnya, Suro justru mengajarkan kebijaksanaan—bahwa kekuatan tidak selalu datang dari keramaian, tapi justru dari kesunyian yang penuh kesadaran. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#doa #khidmat #spiritual #bulan Suro #upacara #nuansa #masyarakat jawa