Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Teman Mendaki Bikin Nagih! Ketagihan Naik Gunung Karena Kebersamaan yang Tak Terlupakan

M. Afiqul Adib • Sabtu, 28 Juni 2025 | 17:45 WIB
Bukan Puncak, Teman Perjalanan Ini yang Bikin Naik Gunung Jadi Ketagihan!
Bukan Puncak, Teman Perjalanan Ini yang Bikin Naik Gunung Jadi Ketagihan!

RADARTUBAN- Naik gunung itu candu. Tapi candunya bukan semata karena puncak, sunrise, atau spot foto yang bisa bikin Instagram naik level.

Yang bikin nagih itu… teman perjalanannya. Iya, orang-orang yang diajak bareng mendaki, ngos-ngosan, kelaperan, dan tidur bareng di tenda sempit sambil nahan bau kaus kaki dua hari nggak diganti.

Banyak orang berpikir ketagihan naik gunung itu soal pemandangan.

Padahal, enggak semua orang kuat ngadepin jalur yang nanjaknya nggak sopan, kabut tebal, atau hujan deras di tengah perjalanan.

Tapi kalau teman perjalanannya asyik—yang bisa jadi pelawak dadakan, tukang masak darurat, sampai motivator jalanan—maka semua itu bisa dilewati dengan senyum tipis di bibir dan langkah lunglai tapi bahagia.

Contohnya bisa dilihat dari film 5cm. Meski jalan cerita film itu kadang terlalu dramatis, tapi satu yang bikin nempel di kepala: teman-teman dalam film itu kompak banget.

Mereka naik gunung bareng, saling dukung, saling ledek, saling bantu. Serunya bukan di puncaknya, tapi di sepanjang perjalanan menuju ke sana.

Naik gunung itu semacam metafora kehidupan. Kita nggak selalu kuat sendiri.

Ada kalanya kaki pengin nyerah, napas tinggal sisa, dan langkah terakhir rasanya pengin dijual aja ke tukang cilok.

Tapi kalau teman perjalanannya tahu kapan harus nunggu, kapan harus bercanda, kapan harus serius—maka gunung pun terasa lebih ramah.

Teman mendaki itu semacam rekan hidup sementara. Mereka tahu kamu capek, tapi tetap nyuruh kamu jalan sambil nyuapin energen.

Mereka bisa jadi tempat curhat di atas tanah 2.000 mdpl, tanpa sinyal, tanpa notifikasi.

Di momen seperti itu, hubungan manusia terasa lebih murni. Nggak ada basa-basi.

Makanya, nggak heran kalau banyak orang yang kapok naik gunung bukan karena jalurnya, tapi karena teman perjalanannya.

Ada yang egois, nyuruh cepat-cepat padahal yang lain ngos-ngosan. Ada yang bawa barang sedikit tapi minta jatah makan paling banyak.

Ada juga yang hobinya ngomel terus sampai nyaris dilemparin nesting.

Sebaliknya, banyak juga yang bilang, “Naik gunung sekali aja cukup,” tapi akhirnya balik lagi naik gunung berikutnya.

Kenapa? Karena teman perjalanannya bikin nagih. Yang nyebelin tapi lucu, yang capek tapi tetap ceria. Yang sama-sama bau tapi nggak saling menghakimi.

Jadi, kalau kamu pengin naik gunung pertama kali, saran saya: bukan hanya cari gunung yang cocok, tapi juga teman perjalanan yang pas.

Karena dalam mendaki, jalur bisa dicari, puncak bisa ditunda, tapi teman perjalanan yang cocok itu rezeki.

Dan kalau kamu sudah pernah merasakan perjalanan yang bikin hati penuh karena kebersamaan, bukan semata karena ketinggian—selamat, kamu sudah tahu kenapa naik gunung itu candu.

Jadi, kapan kita naik gunung bareng? Tapi ingat, bawa semangat, bukan drama. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#naik gunung #teman perjalanannya #ketagihan #mendaki #Tawa