Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Studi: Emosi Negatif Orang Tua Bisa Hambat Otak dan Mental Anak

Dalillah Hizkel Aimy • Selasa, 1 Juli 2025 | 21:46 WIB

Emosi negatif dalam pola asuh bisa ganggu empati dan kecerdasan anak.
Emosi negatif dalam pola asuh bisa ganggu empati dan kecerdasan anak.

RADARTUBAN – Orang tua yang mudah marah bukan hanya menciptakan suasana rumah yang tidak nyaman, tapi juga berisiko menghambat perkembangan otak anak.

Temuan ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang menyoroti pentingnya pengelolaan emosi dalam pola pengasuhan.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan emosi negatif secara terus-menerus—terutama amarah dan ledakan emosional—dapat mengganggu perkembangan area otak anak yang berperan dalam pengendalian diri, empati, serta fungsi kognitif seperti belajar dan memecahkan masalah.

Akibatnya, anak berisiko mengalami gangguan kecemasan, rendah diri, bahkan kesulitan bersosialisasi ketika dewasa.

Temuan ini sejalan dengan pemikiran Daniel J. Siegel dalam buku The Whole-Brain Child, yang menekankan bagaimana pengalaman emosional awal sangat memengaruhi struktur dan fungsi otak anak.

Baca Juga: Emotional Fitness, Cara Melatih Ketenangan Agar Hidup Lebih Seimbang dan Tidak Terjebak dalam Tekanan Emosi

Siegel menyebut bahwa lingkungan emosional yang tidak stabil dapat menghambat koneksi antarneuron yang penting untuk perkembangan emosional dan sosial anak.

Mengelola emosi bukan sekadar menahan marah, tetapi memahami akar emosi dan menyalurkannya secara konstruktif.

Teknik seperti mindful parenting, meditasi, dan konseling keluarga telah terbukti membantu orang tua merespons situasi penuh tekanan dengan lebih tenang dan sadar.

Menurut Laura Markham, penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids, kunci pengasuhan yang efektif adalah kemampuan orang tua untuk menenangkan diri sebelum membimbing anak.

Tanpa regulasi diri yang baik, pendekatan disiplin cenderung berubah menjadi reaktif dan destruktif.

Pakar mendorong agar pemerintah, sekolah, dan lembaga layanan masyarakat memperluas program pelatihan pengasuhan, khususnya yang menekankan pada regulasi emosi.

Intervensi dini dalam bentuk pelatihan ini dinilai mampu mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental generasi mendatang.

Dengan meningkatnya kesadaran dan edukasi tentang pentingnya pengelolaan emosi, orang tua dapat menjadi pondasi emosional yang kuat bagi anak-anaknya—bukan sumber ketakutan yang membekas hingga dewasa. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#empati #orang tua #kognitif #emosi #studi