Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Musical Paralysis: Alasan Kenapa Kita Lebih Suka Lagu Lama daripada Musik Baru

M. Afiqul Adib • Selasa, 8 Juli 2025 | 22:08 WIB

 

Riset tunjukkan banyak orang tetap setia pada playlist lama karena nostalgia dan kesibukan hidup.
Riset tunjukkan banyak orang tetap setia pada playlist lama karena nostalgia dan kesibukan hidup.

RADARTUBAN - Pernah nggak sih kamu nyadar, makin ke sini, playlist-mu isinya itu-itu aja? Lagu-lagu dari zaman kuliah, SMA, atau bahkan SD.

Padahal, dunia musik terus berkembang. Tapi kamu? Masih setia muter Sheila On 7, Dewa 19, atau Linkin Park.

Lagu-lagu baru? Lewat. Bahkan kadang kamu merasa, “Ah, musik sekarang nggak ada yang enak.”

Tenang, kamu nggak sendiri. Fenomena ini punya nama ilmiah yang cukup keren: Musical Paralysis.

Apa Itu Musical Paralysis?

Musical Paralysis adalah kondisi di mana seseorang berhenti mengeksplorasi musik baru dan hanya mendengarkan lagu-lagu yang sudah familiar.

Biasanya, ini mulai terjadi saat kita memasuki usia 30-an.

Menurut riset dari Deezer, platform streaming asal Prancis, sekitar 60 persen orang berhenti mendengarkan musik baru setelah usia 30 tahun.

Mereka lebih memilih lagu-lagu yang sudah jadi zona nyaman. Alasannya? Klasik: kesibukan.

Setelah usia 30, hidup mulai padat.

Pekerjaan, urusan rumah tangga, cicilan, anak, dan tetek bengek lainnya bikin waktu untuk eksplor musik jadi mewah.

Akhirnya, kita memilih yang praktis: muter lagu-lagu lama yang sudah pasti enak dan bikin tenang.

Efek Nostalgia: Reminiscence Bump

Fenomena ini juga berkaitan dengan istilah psikologi yang disebut Reminiscence Bump. Ini adalah kecenderungan otak kita untuk lebih mengingat hal-hal yang terjadi saat remaja hingga dewasa awal.

Kenapa? Karena di masa itu, kita mengalami banyak hal untuk pertama kalinya: cinta pertama, patah hati pertama, nongkrong pertama kali sampai pagi, dan sebagainya. Lagu-lagu yang menemani masa itu otomatis terekam kuat di memori.

Makanya, ketika kita mendengarkan lagu-lagu dari masa itu, rasanya seperti pulang. Ada rasa hangat, nostalgia, dan kenyamanan yang sulit dijelaskan.

Bukan Soal Musiknya, Tapi Soal Kenangannya

Musical Paralysis bukan berarti kita jadi cupet atau nggak mau berkembang. Ini lebih ke soal emosi dan keterikatan.

Lagu-lagu lama bukan cuma musik, tapi juga penanda momen hidup.

Dengerin “Dan” dari Sheila On 7 bisa langsung bikin kamu inget mantan yang dulu suka ngasih surat pakai binder.

Lagu “In The End” dari Linkin Park bisa bikin kamu inget masa-masa ngerjain tugas sambil galau.

Jadi wajar kalau kita lebih milih lagu-lagu itu dibanding musik baru yang belum punya “cerita”.

Haruskah Kita Khawatir?

Nggak juga. Musical Paralysis itu manusiawi. Tapi bukan berarti kita harus menutup diri sepenuhnya dari musik baru.

Sesekali, bolehlah coba dengerin rilisan terbaru. Siapa tahu, kamu nemu lagu yang bisa jadi soundtrack hidupmu di fase sekarang.

Karena hidup terus berjalan, dan siapa tahu, lagu favoritmu berikutnya belum kamu dengar hari ini.

Tapi kalau kamu tetap nyaman dengan playlist lama, ya nggak apa-apa juga. Yang penting, musiknya bikin kamu bahagia.

Karena pada akhirnya, musik bukan soal tren, tapi soal rasa. Dan rasa, seperti kenangan, kadang memang lebih enak kalau disimpan lama-lama. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#lagu lama #Musical Paralysis #sheila on 7 #musik baru