RADARTUBAN- Cahaya magis yang biasa kita lihat menari-nari di malam hari perlahan memudar.
Sebuah studi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengungkap fakta mengkhawatirkan: dari 128 spesies kunang-kunang yang diteliti, sebanyak 11 persen berada dalam status terancam punah, dan 2 persen lainnya sudah tergolong sangat terancam.
Penurunan populasi ini terjadi secara signifikan di berbagai belahan dunia.
Kunang-kunang, yang selama ini dikenal karena keindahan bioluminesensi yang mereka pancarkan, ternyata menyimpan peran ekosistem yang tak kalah penting—sebagai indikator kualitas lingkungan dan pengendali hama alami.
Kehilangan mereka bukan hanya soal hilangnya cahaya malam, tetapi juga gangguan serius terhadap keseimbangan alam.
Penurunan drastis populasi kunang-kunang disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya:
-
Pencemaran cahaya buatan yang mengganggu siklus biologis kunang-kunang dan komunikasi antarindividu
-
Penggunaan pestisida secara berlebihan yang merusak populasi serangga dan mikroorganisme penting
-
Alih fungsi lahan dan urbanisasi yang menyebabkan hilangnya habitat alami mereka
Menurut para ahli, kondisi ini mengancam keberlangsungan spesies yang sejak lama menjadi simbol keindahan malam dan kedamaian pedesaan.
Dalam menghadapi krisis ini, para peneliti menyerukan langkah-langkah preventif yang bisa dilakukan masyarakat untuk memperlambat kepunahan kunang-kunang. Di antaranya:
-
Mengurangi penggunaan pestisida di area pertanian dan pemukiman
-
Melestarikan habitat alami, termasuk menjaga taman dan area hijau bebas dari pembangunan masif
-
Mengurangi pencahayaan buatan di malam hari, khususnya di daerah pedesaan atau pinggir kota
Perubahan kecil dalam perilaku manusia diyakini dapat memberi dampak besar dalam mempertahankan keberadaan kunang-kunang di masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni