RADARTUBAN – Para ilmuwan dunia kembali mengeluarkan peringatan keras: suhu rata-rata global diprediksi bisa melonjak hingga 2,7 derajat Celsius pada tahun 2100 jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikendalikan.
Angka ini jauh melampaui batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris, yakni 1,5 derajat Celsius, dan berpotensi memicu kepunahan massal spesies, mencairnya gletser, serta bencana iklim ekstrem.
Sejak era industrialisasi tahun 1850, emisi karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida terus meningkat.
Aktivitas seperti pembakaran batu bara, kendaraan berbahan bakar fosil, dan proses industri menjadi penyumbang terbesar.
Bahkan 90% panas berlebih tersimpan di lautan, menyebabkan pemanasan hingga kedalaman 2000 meter dan mengganggu keseimbangan termodinamika laut.
Sejarah Bumi mencatat bahwa perubahan ekstrem pernah terjadi, karena bumi pernah dihantam dengan benda langit seukuran Mars yang mengubah permukaan menjadi lautan magma.
Kini, ancaman datang bukan dari luar angkasa, melainkan dari eksploitasi alam oleh manusia sendiri.
Dari sudut pandang ilmiah maupun spiritual, menjaga keseimbangan alam adalah tanggung jawab bersama.
Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan kenaikan suhu mencapai 1,5 derajat Celsius dari masa pra-industri.
Jika tren ini berlanjut, sepertiga spesies di Bumi diprediksi akan punah pada akhir abad ini, termasuk amfibi dan spesies yang hidup di ekosistem pegunungan dan air tawar.
Ilmuwan dan pemuka agama sepakat bahwa pengelolaan sumber daya alam yang bijak dan pelestarian lingkungan adalah kunci agar generasi mendatang masih bisa menikmati bumi yang layak huni.
Tanpa perubahan drastis, masa depan planet ini akan semakin suram. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni