RADARTUBAN - Dalam sebuah obrolan, saya ingat senior saya pernah cerita kalau ada anak magang, namanya Tugino.
Dia anak ke-21 dari istri ke-3, asli Dieng. Namanya satu kata, tapi dari sana diskusi kami justru ke mana-mana.
Fenomena nama-nama pendek seperti Tugino bukanlah kebetulan. Orang Jawa dulu percaya bahwa nama tidak perlu panjang untuk bermakna.
Justru sebaliknya, nama yang terlalu panjang dikhawatirkan bisa “memberatkan” si anak dalam menjalani hidup. Filosofinya sederhana: makin enteng namanya, makin enteng rezeki dan langkahnya.
Nama seperti Agus, Joko, atau Bambang cukup untuk menyematkan harapan agar anak tumbuh jadi pemimpin, bijaksana, atau kuat menghadapi hidup.
Mereka tak butuh akhiran Latin atau awalan Arab untuk merasa spesial. Kadang malah nama seperti Sukamto atau Ngatiman lebih mudah diingat dan lebih akrab di telinga.
Namun, seiring waktu, pola itu mulai berubah. Nama anak sekarang bisa panjang seperti daftar belanja bulanan.
Mulai dari “Muhammad Alfarizi Dwi Pratama Nugroho” sampai “Zhafirah Aura Cantika Kirana.” Enam kata bukan lagi luar biasa. Bahkan, bisa jadi satu formulir pendaftaran tidak cukup menampung semuanya.
Pergeseran ini muncul karena pengaruh globalisasi, keinginan tampil beda, serta dorongan media sosial.
Orang tua ingin anaknya punya nama unik yang menonjol di kelas dan di feed Instagram.
Tapi sering kali, nama panjang itu menyisakan dilema: susah dieja, susah dihafal, dan kadang bikin si anak sendiri bingung saat disuruh isi kolom identitas.
Meski begitu, nama-nama pendek tetap punya tempat di hati banyak orang.
Ada rasa nostalgia dan kehangatan yang muncul saat mendengar nama seperti Marno, Sumarni, atau Tugiyem.
Mereka membawa kita kembali ke masa ketika nama bukan soal estetika, tapi soal keakraban dan harapan yang dijalankan pelan-pelan, dalam diam.
Masuk era 1990-an dan 2000-an, tren nama berubah drastis. Nama anak bisa terdiri dari lima sampai enam kata, lengkap dengan unsur Arab, Latin, bahkan Korea.
Nama seperti “Muhammad Alfarizi Dwi Pratama Nugroho” jadi hal biasa. Padahal, dulu cukup “Sarno” atau “Wagimin” saja.
Jadi, kalau kamu bertemu seseorang bernama satu kata, jangan anggap itu sisa era kuno.
Bisa jadi, dia sedang membawa filosofi tua yang tetap relevan: nama adalah doa, dan doa tak perlu ribet.
Karena sejatinya, bukan panjang pendeknya yang penting, tapi seberapa dalam ia mengakar dan dijalani dengan sungguh-sungguh. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama