Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tanpa Mainan Mahal, Orang Tua Bisa Latih Sensorik Anak dengan Bahan Rumahan

Siti Rohmah • Kamis, 24 Juli 2025 | 20:30 WIB
Gangguan tumbuh kembang anak di Indonesia capai 7,51 persen. Artikel ini bahas peran orang tua dalam stimulasi sensorik sejak dini.
Gangguan tumbuh kembang anak di Indonesia capai 7,51 persen. Artikel ini bahas peran orang tua dalam stimulasi sensorik sejak dini.

RADARTUBAN — Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Shofa Nisrina Luthfiyani, Sp.A, mengungkapkan bahwa stimulasi sensorik untuk mendukung tumbuh kembang anak dapat dilakukan oleh orang tua dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di rumah.

"Untuk melatih atau menstimulasi sensorik tidak harus menggunakan mainan khusus. Tujuannya adalah membiasakan anak mengenal berbagai tekstur, jadi bisa memakai bahan-bahan rumahan," ujar dr. Shofa dalam diskusi daring yang digelar pada Rabu (tanggal tidak disebutkan).

Stimulasi sensorik memiliki peran penting dalam merangsang perkembangan kognitif, motorik, hingga emosional anak.

Proses ini melibatkan aktivasi lima indera anak, termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba.

Dengan demikian, anak dapat belajar memahami serta berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Menurut dr. Shofa, stimulasi sensorik sudah bisa dikenalkan sejak bayi berusia lima bulan.

Ketika memasuki usia enam bulan, anak mulai mengenal beragam tekstur, terutama melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI), sehingga stimulasi menjadi bagian penting dalam fase pertumbuhan ini.

Sebagai contoh, dia menyarankan kegiatan sederhana seperti mencampurkan tepung dan air, lalu membiarkan anak menyentuh adonan tersebut guna mengenalkan tekstur lembut.

Untuk tekstur kasar, orang tua bisa menggunakan bahan seperti beras atau kacang hijau yang dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberikan kepada anak untuk diraba.

Namun, dr. Shofa mengingatkan agar setiap aktivitas stimulasi sensorik dilakukan di bawah pengawasan orang tua.

"Permainannya tidak harus khusus, yang penting diawasi dan tidak menggunakan benda berbahaya. Gunakan saja barang-barang rumah tangga yang relatif aman," tegasnya.

Dia menambahkan bahwa stimulasi sensorik yang tepat dan rutin dapat mencegah gangguan tumbuh kembang anak.

Gangguan tersebut masih menjadi tantangan serius di Indonesia karena berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia.

Mengacu pada data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2020, prevalensi gangguan tumbuh kembang anak di Indonesia diperkirakan mencapai 7,51 persen dari total populasi anak di bawah usia lima tahun.

Fakta ini menunjukkan pentingnya peran orang tua dalam memberikan dukungan optimal terhadap perkembangan anak sejak dini. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#sensorik #stimulasi #dokter spesialis anak #Rumah Sakit Universitas Indonesia