RADARTUBAN - Sebuah studi terbaru mengungkap fakta menarik bahwa kucing tidak melacak objek saat objek tersebut tidak terlihat, meskipun selama ini kucing dikenal sebagai makhluk cerdas dan penuh rasa ingin tahu.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Sussex ini menggugah pemahaman lama tentang perilaku kucing, terutama terkait kemampuan kognitif mereka.
Kucing dan Kemampuan Object Permanence
Dalam dunia psikologi hewan, terdapat konsep yang disebut object permanence — pemahaman bahwa suatu benda tetap ada walau tidak terlihat.
Studi yang diterbitkan di jurnal PLOS One ini bertujuan menilai apakah kucing menunjukkan kemampuan tersebut pada level 6, yakni tahap lanjutan di mana objek dipindahkan tanpa disaksikan langsung.
Para peneliti mendesain eksperimen menggunakan dua kotak dan sebuah mainan.
Mainan tersebut disembunyikan dan kemudian dimunculkan kembali di lokasi yang diharapkan atau yang tidak terduga.
Jika kucing memiliki object permanence, mereka seharusnya tertarik pada kejadian yang melanggar ekspektasi, namun justru sebaliknya yang terjadi.
Reaksi Kucing Bertolak Belakang dari Ekspektasi
Temuan menarik datang dari perilaku kucing saat eksperimen berlangsung.
Mereka justru menunjukkan lebih banyak ketertarikan saat mainan kembali muncul di lokasi semula.
“Kucing mampu membedakan antara kejadian yang diharapkan dan yang tidak diharapkan, tetapi dengan arah yang berlawanan dari apa yang selama ini diketahui pada bayi manusia dan anjing,” jelas Jemma Forman, Peneliti Doktoral dari University of Sussex.
Kucing lebih lama menatap mainan pada kejadian yang sesuai ekspektasi, dan lebih cenderung bermain saat mainan muncul di tempat yang sudah dikenalnya.
Faktor yang Mempengaruhi Respons Kucing
Peneliti juga menemukan bahwa jenis kucing tertentu lebih tertarik mengikuti eksperimen ini.
Kucing betina, kucing ras campuran, kucing indoor-only, serta kucing dari rumah dengan banyak kucing lebih aktif menanggapi kehadiran mainan.
Hal ini diduga berkaitan dengan tingkat keterpaparan terhadap aktivitas bermain di dalam rumah.
Menariknya, kehadiran orang asing juga turut memengaruhi respons kucing terhadap eksperimen.
“Kucing bisa menunjukkan perilaku menghindar atau ragu-ragu terhadap manusia asing, yang bisa memengaruhi keterlibatan mereka dalam tugas-tugas kognitif,” ujar Jordan S. Rowe, penulis bersama studi ini.
“Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa kucing lebih cenderung bermain dengan mainan, tetapi kurang tertarik berinteraksi dengan kotak-kotak tersebut, jika eksperimen dilakukan oleh orang asing dibanding oleh pemiliknya," lanjutnya.
Penelitian Kucing Dorong Metode yang Lebih Ramah
Studi ini menantang asumsi lama bahwa perilaku kucing selalu mengarah pada rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru.
Peneliti menyatakan bahwa hasil yang didapat mungkin lebih menjelaskan motivasi dibanding kemampuan kognitif.
“Karena kami secara tak terduga menemukan bahwa kucing lebih tertarik pada peristiwa yang konsisten (bukan yang mengejutkan), hal ini mendorong kami untuk menyelidiki lebih jauh alasan di baliknya pada sampel kucing kami,” ujar tim peneliti.
“Banyak penelitian sebelumnya tentang object permanence menunjukkan bahwa seharusnya kucing lebih tertarik pada peristiwa pelanggaran ekspektasi. Berdasarkan hasil studi ini, kami menyarankan bahwa alasannya mungkin lebih bersifat motivasional daripada kognitif," lanjutnya.
Penemuan Yang Meluas
Penemuan bahwa kucing tidak melacak objek ketika tidak terlihat memperluas wawasan tentang penelitian kucing dan membuka peluang baru untuk memahami lebih dalam perilaku kucing.
Hasil penelitian ini juga mendorong pentingnya pendekatan ramah kucing dalam eksperimen psikologi hewan, guna menghindari bias akibat kehadiran orang asing atau lingkungan yang tidak familiar. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama