Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Tradisi ke Simbol Persatuan: Asal Usul Lomba 17 Agustus

Isna Fadillah • Selasa, 12 Agustus 2025 | 14:10 WIB
Lomba 17 Agustus tak hanya seru, tapi sarat sejarah dan makna persatuan sejak awal 1950-an.
Lomba 17 Agustus tak hanya seru, tapi sarat sejarah dan makna persatuan sejak awal 1950-an.

RADARTUBAN – Lomba-lomba khas perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus—mulai dari panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, hingga bakiak.

Tak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarat makna sejarah.

Tradisi ini berakar dari masa penjajahan dan, sejak awal 1950-an, menjelma menjadi simbol persatuan, gotong royong, serta kegembiraan masyarakat dalam memperingati hari lahir bangsa.

Menurut sejarawan JJ Rizal dan akademisi Heri Priyatmoko, lomba-lomba tersebut sejatinya sudah eksis jauh sebelum kemerdekaan.

Panjat pinang, misalnya, kerap diadakan sebagai hiburan dalam berbagai perayaan pada era kolonial Belanda, termasuk pesta pernikahan bangsawan seperti Mangkunegara VII.

Saat itu, panjat pinang diikuti oleh masyarakat biasa untuk memperebutkan hadiah, sementara para elite menjadi penonton.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi ini perlahan diadaptasi ke dalam momen peringatan HUT RI.

Namun, popularitasnya sebagai bagian resmi perayaan baru benar-benar terlihat pada awal 1950-an.

Di perayaan kemerdekaan ke-5, lomba rakyat mulai rutin diselenggarakan di berbagai daerah, menjadi ajang pertemuan warga sekaligus perayaan kemerdekaan secara meriah.

Lomba Agustusan berkembang dari sekadar hiburan menjadi sarana mempererat hubungan sosial.

Pasca-kemerdekaan, masyarakat memerlukan medium untuk menyalurkan euforia sekaligus meneguhkan rasa kebersamaan setelah melewati masa perjuangan.

Lomba-lomba tersebut akhirnya menjadi simbol kesatuan di tengah keragaman, mempertemukan orang dari berbagai usia, latar belakang, dan status sosial di satu arena kebersamaan.

Pemerintah daerah maupun panitia kampung kemudian menjadikan lomba ini tradisi tahunan.

Bentuk dan variasinya pun berkembang, namun esensi persaingan sehat dan keguyuban tetap terjaga.

Makna di Balik Setiap Lomba

Panjat Pinang: Melambangkan perjuangan meraih cita-cita yang penuh tantangan.

Batang yang licin menjadi simbol rintangan, sedangkan hadiah di puncak adalah gambaran pencapaian yang diinginkan.

Dibutuhkan kerja sama tim untuk menggapai puncak, menegaskan nilai gotong royong.

Makan Kerupuk: Terinspirasi dari kondisi sulit masa penjajahan ketika kerupuk menjadi makanan murah dan mengenyangkan.

Lomba ini mengingatkan masyarakat untuk bersyukur, pantang menyerah, dan tetap bersemangat walau menghadapi keterbatasan.

Balap Karung: Berasal dari penggunaan karung goni sebagai pakaian darurat pada masa pendudukan Jepang.

Kini, balap karung menjadi ajang tawa bersama sekaligus refleksi tentang masa sulit yang telah dilewati bangsa.

Tarik Tambang: Menggambarkan kekuatan kolektif yang hanya bisa tercapai dengan koordinasi dan kebersamaan.

Tarik tambang menjadi simbol persatuan dan kerja sama, yang sangat relevan dengan perjuangan merebut kemerdekaan.

Bakiak: Menuntut kekompakan dan ritme gerak yang selaras.

Dalam perlombaan bakiak, keberhasilan tidak ditentukan oleh kecepatan individu, melainkan koordinasi seluruh tim—cerminan semangat persatuan Indonesia.

Hingga kini, lomba-lomba 17 Agustus tidak sekadar dijalankan demi seru-seruan. Setiap permainan menyimpan makna filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diraih lewat perjuangan bersama, dan kebersamaan adalah kekuatan yang harus terus dijaga. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#rakyat #belanda #jj rizal #sejarawan #tradisi #agustusan #lomba #hari lahir