Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Belajar Dari Majapahit, Puncak Kejayaan dari Ekonomi Hingga Pembentukan Dewan Khusus Hukum dan Agama

Amaliya Syafithri • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 16:46 WIB
Majapahit berjaya berkat strategi Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Majapahit berjaya berkat strategi Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

RADARTUBAN - Puncak kejayaan Majapahit bermula sejak pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Dalam buku-buku sejarah di sekolah, hal ini telah diajarkan, membuat tokoh ini sangat dikenal oleh banyak orang.

Salah satunya melalui buku Pesona dan Sisi Kelam Majapahit karya Sri Wintala Achmad.

Puncak kejayaan tidak hanya tentang perluasan wilayah dan kestabilan perekonomian. Namun, ada berbagai hal yang semakin maju, termasuk pada sektor hukum dan agama.

Dengan adanya Patih Amangkubhumi Gajah Mada, perluasan wilayah tentu bukan hal yang mustahil.

Sumpahnya yang terkenal yakni "Sumpah Palapa" menandakan ambisi dan tekad yang kuat untuk menyatukan Nusantara dalam satu Dwaja.

Perluasan Wilayah

Perluasan wilayah Kerajaan Majapahit tentu didukung dengan adanya Sumpah Palapa dan strategi politik Gajah Mada.

Kekuasaan pada wilayah meluas mulai dari Jawa, Sumatera (Melayu), Kalimantan (Tanjungnegara), Semenanjung Melayu (Malaka), wilayah di timur Jawa dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Irian (Barat).

Ekonomi

Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, terdapat perbaikan di sektor pertanian, yakni perbaikan dan pemeliharaan tanggul sepanjang Sungai untuk mencegah adanya banjir.

Selain itu, terdapat pula perbaikan infrastruktur seperti jembatan untuk mempermudah lalu lintas perdagangan.

Saat itu, komoditas perdagangan di Majapahit meliputi beras dan rempah-rempah.

Perdagangan berpusat di Pelabuhan Canggu, Surabaya, Gresik, Sedayu, dan Tuban. Banyak pedagang di Majapahit yang menjadi pedagang perantara.

Menurut Berita Cina, Majapahit telah memperdagangkan rempah-rempah dan hal lain, seperti garam, beras, lada, intan, cengkeh, pala, kayu cendana, dan gading. Pedagang dari Cina juga banyak yang membeli barang-barang itu dari pedagang Majapahit.

Dengan pusat perdagangan yang ramai, Majapahit tentu juga menjalin politik bertetangga dengan Kerajaan-Kerajaan asing, contohnya Cina, Ayodya (Siam), Champa, dan Kamboja.

Dengan bukti bahwa Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina, tepatnya pada 1370 - 1381.

Majapahit memiliki peranan penting dalam perdagangan, yakni produsen dan perantara. Itulah mengapa hubungan kerja sama dengan Kerajaan tetangga sangat penting.

Hukum dan Agama

Di Majapahit, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Bahkan, pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk, dibentuk suatu Dewan Hukum dan Agama.

Dewan khusus tersebut bernama Dharmadhyaksa Kasaiwan yang mengurus agama Siwa Buddha, dan Dharmadhyaksa Kasogatan yang mengurus agama Buddha.

Selain itu, kedua dewan tersebut dibantu oleh pejabat keagamaan, yakni Dharma Upapatti.

Dengan adanya dewan-dewan khusus tersebut, kehidupan beragama di Majapahit berjalan dengan lancar dan penuh toleransi.

Hal ini dibuktikan melalui Kakawin Sutasoma gubahan Mpu Tantular. Di dalamnya terdapat kalimat, "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmamangrua."

Melalui masa kejayaan Majapahit kita dapat belajar toleransi, strategi perdagangan, dan strategi ekonominya.

Masa Kejayaan Majapahit adalah masa keemasan, di mana pemerintahannya damai, rakyatnya pun sejahtera.

Perekonomian stabil karena menjadi produsen sekaligus perantara perdagangan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#toleransi #ekonomi #hayam wuruk #gajah mada #kerajaan majapahit #hukum