RADARTUBAN - Selama bertahun-tahun, dunia psikologi membagi kepribadian manusia ke dalam dua kutub besar: introvert dan ekstrovert.
Introvert dikenal sebagai pribadi yang lebih nyaman dalam kesendirian, sementara ekstrovert cenderung mencari energi dari keramaian dan interaksi sosial yang intens.
Namun, pada tahun 2025, para psikiater mulai mengenalkan satu istilah baru yang menjembatani keduanya: otrovert.
Otrovert adalah individu yang merasa paling nyaman saat berada di sekitar orang lain, namun tidak membutuhkan percakapan terus-menerus atau sorotan sosial yang berlebihan.
Mereka tidak mencari stimulasi seperti ekstrovert, dan tidak pula menghindari keramaian seperti introvert.
Mereka senang duduk bersama teman dekat, berbagi pengalaman sederhana, tanpa perlu menjadi pusat perhatian.
Otrovert bukanlah konsep yang mengaburkan batas, melainkan memperjelas spektrum kepribadian manusia.
Mereka bisa hadir dalam acara sosial, tapi tidak merasa perlu tampil. Mereka bisa menikmati percakapan, tapi tidak tergantung padanya. Yang mereka cari adalah kehadiran yang bermakna, bukan sekadar interaksi.
Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan, otrovert bisa jadi lebih umum daripada yang kita kira. Banyak orang yang senang berada di tengah keluarga atau komunitas, tapi tidak suka menjadi pusat sorotan.
Mereka menikmati suasana ramai, tapi lebih memilih duduk di pinggir, mengamati, dan sesekali ikut tertawa. Mereka bukan pemalu, tapi juga bukan pencari perhatian. Mereka hanya nyaman dengan ritme sosial yang adem.
Kehadiran istilah otrovert juga menandai perubahan cara kita memahami identitas dan rasa memiliki.
Kadang, kata-kata baru memberi kita ruang untuk lebih jujur terhadap diri sendiri.
Dengan adanya istilah ini, kita tidak lagi harus memaksakan diri menjadi “lebih ekstrovert” agar dianggap supel, atau “lebih introvert” agar terlihat mendalam.
Kita bisa menjadi diri sendiri, dengan cara yang tidak bising tapi tetap hadir.
Otrovert adalah pengingat bahwa manusia tidak selalu bisa dikotakkan. Ada yang tumbuh di antara dua kutub, dan justru menemukan kenyamanan di sana.
Mereka tidak mencari sorotan, tapi juga tidak lari dari keramaian. Mereka hanya ingin hadir, bersama, dan tenang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni