RADARTUBAN - Pernahkah kamu mendengar tentang Jalaluddin Rumi?
Seorang filsuf yang memiliki berbagai macam pendapat, salah satunya tentang pikiran dan keyakinan dalam diri manusia.
Selama ini kita banyak berpikir tentang segala sesuatu yang kita hadapi.
Namun, pernahkah kita menyadari bahwa pikiran itu sebenarnya bisa membatasi?
"Tidak ada yang menyakitimu kecuali itu pikiranmu, tidak ada yang membatasimu kecuali itu ketakutanmu, tidak ada yang mengendalikanmu kecuali itu keyakinanmu," kata Rumi.
Ya, itu benar. Apa yang memengaruhi kita adalah diri sendiri.
Inilah 3 hal yang harus diperhatikan dan dikendalikan agar manusia bisa lebih berkembang.
1. Pikiran
Pikiran manusia itu kompleks. Dan di dalam pikiran itu ada hal baik dan hal buruk.
Pikiran yang baik membuat manusia selalu positif dalam melakukan sesuatu.
Sedangkan pikiran yang buruk akan menyakiti diri manusia itu sendiri.
2. Ketakutan
Manusia memiliki rasa takut. Rasa takut dipengaruhi oleh pikiran buruk.
Dengan itulah seorang manusia akan merasa terbatas.
Mereka takut untuk melakukan sesuatu yang belum mereka coba. Padahal hasil akhir belum tentu adalah sesuatu yang buruk.
Ketakutan membuat manusia minum pengalaman.
Mengapa seperti itu? Kita harus tahu. Ketika mencoba hal baru, yang dibutuhkan adalah keberanian.
Hasil itu masalah akhir, yang penting berani mencoba.
3. Keyakinan
Keyakinan dapat mengendalikan diri manusia.
Dalam sebuah keyakinan pasti ada aturan-aturan tak tertulis yang secara otomatis akan dipatuhi setiap orang.
Keyakinan menjadi pengendali bagi diri manusia. Itulah mengapa kita harus meyakini yang baik, bisa membedakan mana yang baik dan tidak.
Filosofi Jalaluddin Rumi mengajarkan kita untuk menjadi percaya diri, berpikir positif, berani bertindak, dan teguh pada keyakinan yang baik.
Apakah kamu juga menyadari bahwa pikiran, ketakutan, dan keyakinan saling berkaitan?
Pikiran yang baik membawa keberanian, dan keyakinan dalam hati bahwa kita bisa.
Namun, pikiran yang buruk akan menimbulkan ketakutan, sehingga apa yang diyakini adalah hasil akhir yang buruk.
Padahal kita belum tahu hasilnya jika tidak melakukan proses yang seharusnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama