Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Legenda Gunung Semeru, Benarkah Paku Bumi Pulau Jawa? Begini Penjelasan dalam Kisah Tantu Pagelaran

Amaliya Syafithri • Minggu, 28 September 2025 | 12:00 WIB
Dalam mitologi Jawa, Gunung Semeru berasal dari Mahameru yang dipindahkan para dewa. Kisah ini menjelaskan asal usul gunung-gunung di Jawa.
Dalam mitologi Jawa, Gunung Semeru berasal dari Mahameru yang dipindahkan para dewa. Kisah ini menjelaskan asal usul gunung-gunung di Jawa.

RADARTUBAN - Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut.

Puncaknya dinamai Mahameru, sebuah sebutan yang sarat makna dalam tradisi Hindu dan mitologi Jawa.

Gunung ini tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya dan aktivitas vulkaniknya, tetapi juga menyimpan legenda kuno yang diwariskan turun-temurun.

Dalam naskah kuno Jawa bernama Tantu Pagelaran, yang berasal dari masa Majapahit abad ke-15, diceritakan bahwa Pulau Jawa pada awalnya belum stabil.

Pulau ini mengambang di tengah lautan dan sering berguncang sehingga belum bisa dihuni manusia.

Batara Guru, yang dalam ajaran Hindu identik dengan Dewa Siwa, kemudian memerintahkan para dewa untuk membuat pulau ini tidak lagi terombang-ambing.

sBaca Juga: Gunung Semeru Erupsi, PVMBG Ingatkan Warga Jauhi Radius 3 Kilometer

Jalan yang ditempuh adalah dengan menancapkan sebuah gunung suci sebagai paku bumi.

Para dewa sepakat untuk memindahkan Gunung Mahameru yang berada di Jambudvipa, kawasan yang sering dikaitkan dengan India.

Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa untuk menggendong gunung tersebut di punggungnya.

Sementara Dewa Brahma menjelma sebagai ular naga yang melilit tubuh gunung agar tidak jatuh.

Dengan cara itu, Mahameru dapat dipindahkan ke Pulau Jawa.

Ketika diletakkan di bagian barat Jawa, berat gunung itu membuat bagian timur pulau terangkat.

Para dewa kemudian memindahkannya ke sisi timur Jawa, tepat di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Malang dan Lumajang.

Namun ketidakseimbangan masih terjadi. Akhirnya, sebagian puncaknya dipotong dan diletakkan di wilayah barat laut Jawa.

Potongan inilah yang dipercaya menjadi Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra, sementara bagian utamanya menjadi Gunung Semeru yang kita kenal sekarang.

Legenda lain menyebut bahwa ketika Mahameru dipindahkan, serpihannya berjatuhan dan berubah menjadi gunung-gunung yang berjajar di sepanjang Pulau Jawa, seperti Arjuna, Kawi, hingga Lawu.

Di Bali, masyarakat setempat percaya Gunung Agung merupakan bagian dari Mahameru yang masih memiliki hubungan kosmis dengan Gunung Semeru.

Bahkan ada keyakinan bahwa Gunung Rinjani di Lombok juga merupakan pecahan dari Mahameru.

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, PVMBG Ingatkan Warga Jauhi Radius 3 Kilometer

Kisah ini bukan hanya dongeng semata, melainkan cerminan cara masyarakat Jawa kuno memahami fenomena alam.

Dengan cerita tersebut, mereka menjelaskan mengapa Pulau Jawa memiliki banyak gunung berapi dan sering diguncang gempa.

Lebih dari itu, kisah Mahameru dan Semeru menjadi simbol keteraturan alam, stabilitas bumi, serta hubungan antara manusia dengan dunia para dewa.

Hingga kini, Gunung Semeru masih dianggap sakral. Masyarakat Tengger di sekitar kawasan ini kerap mengaitkan Semeru sebagai tempat bersemayam Dewa Siwa.

Gunung ini juga dijuluki sebagai paku bumi Pulau Jawa, penanda bahwa keberadaannya bukan hanya bagian dari lanskap alam, tetapi juga dari lanskap spiritual dan budaya.

Legenda Mahameru di Gunung Semeru memperlihatkan bagaimana warisan budaya dan kosmologi Jawa memadukan mitologi Hindu dengan kepercayaan lokal.

Cerita itu menjadi bagian dari identitas masyarakat dan layak untuk terus dilestarikan sebagai kekayaan tradisi Nusantara. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#india #pulau jawa #gunung semeru #mahameru #jawa