RADARTUBAN - Di tengah gempuran buah impor dan modernisasi pertanian, ternyata banyak jenis buah yang selama ini dianggap berasal dari luar negeri sebenarnya asli dan tumbuh subur di tanah Indonesia.
Ramadani Prasetya, seorang Horticulturist, mengangkat realita petani lokal yang menghadapi berbagai tantangan dari distribusi yang rumit dalam podcast di kanal YouTube Ray Janson Radio pada Selasa (5/3).
Banyak pelaku usaha dan masyarakat masih beranggapan bahwa buah lokal reputasinya kalah dari buah impor.
Menguatkan posisi buah lokal di pasar bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal menjaga identitas dan keanekaragaman buah asli Indonesia yang menawarkan nilai gizi tinggi.
Dengan memanfaatkan potensi buah asli yang banyak ragamnya, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor buah sekaligus membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Tetapi, realita pahit di lapangan menunjukkan nasib petani yang kerap dianggap sebelah mata, tidak mendapatkan perhatian dan harga yang pantas.
Hal ini diperparah oleh sistem distribusi yang kurang efisien dan terkadang dikuasai oleh perantara yang mengurangi keuntungan petani.
Maka, kebijakan yang berpihak kepada petani dan penguatan rantai distribusi menjadi kunci penting agar hasil bumi asli Indonesia semakin dikenal dan dapat dinikmati secara luas.
Oleh sebab itu, Ramadani tetap berjuang menjaga keberlanjutan pertanian dalam ekosistem yang saling terhubung antara petani, distributor, dan konsumen di restoran serta pasar.
“Kita harus bangga dengan apa yang tumbuh dari tanah kita sendiri. Keberlanjutan pertanian lokal adalah kunci masa depan bangsa,” ujar Ramadani.
Perubahan cara pandang terhadap produk lokal harus segera dilakukan, dimana harus ada kesadaran dari semua orang untuk mendukung buah asli Indonesia tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi harus berkelanjutan.
Pentingnya edukasi mengenai keberagaman buah asli serta keunggulannya menjadi tugas bersama seluruh elemen masyarakat.
Tidak kalah penting, peran teknologi dan inovasi dalam sistem pertanian dan distribusi masih harus terus ditingkatkan, agar petani mendapatkan akses yang adil dan harga yang kompetitif di pasar nasional maupun internasional.
Menjadi petani di Indonesia sering dianggap kurang bergengsi dan minim perhatian.
Nyatanya, petani memiliki peran strategis dalam menjaga ekosistem pangan dan kearifan lokal yang tak ternilai.
Petani adalah ujung tombak pemeliharaan keanekaragaman hayati dan sumber pangan nasional yang harus dihargai dan didukung dengan kebijakan nyata.
Petani yang modern dan profesional memerlukan dukungan teknis dan pemasaran agar produk asli Indonesia mampu bersaing dan mendapatkan tempat di hati konsumen.
“Petani bukan cuma pencari nafkah, tetapi penjaga budaya dan warisan alam yang harus kita hormati dan dukung bersama,” kata Ramadani. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama