Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Suku Jawa Tidak Memiliki Sistem Marga? Begini Penjelasan Antropolog BRIN

Silva Ayu Triani • Selasa, 7 Oktober 2025 | 21:10 WIB
Ilustrasi keluarga Jawa dalam balutan busana tradisional yang mencerminkan kehangatan dan kebersamaan
Ilustrasi keluarga Jawa dalam balutan busana tradisional yang mencerminkan kehangatan dan kebersamaan

RADARTUBAN – Suku Jawa, sebagai suku terbesar di Indonesia, memiliki keunikan budaya dengan tidak adanya sistem marga yang lazim dipakai suku-suku lain di tanah air.

Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan mengapa suku yang berpopulasi besar ini berbeda dalam hal identitas keluarga.

Sistem marga yang secara tradisional berfungsi sebagai penanda garis keturunan tidak berlaku dalam masyarakat Jawa yang lebih mengedepankan tradisi dan penghormatan leluhur melalui cara berbeda.

Hal ini diungkapkan oleh pakar antropologi budaya sekaligus Peneliti Ahli Madya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Budiana Setiawan, S.S., M.Si, dalam Podcast Nusantara pada Senin (3/3).

Marga berperan penting sebagai identitas keluarga yang diturunkan turun-temurun.

"Marga menunjukkan siapa kita berasal, biasanya dari garis keturunan ayah," ujar Dr. Budiana.

Di Indonesia, suku seperti Batak, Dayak, dan Minahasa menggunakan sistem marga untuk menelusuri sejarah keluarga dan menjaga ikatan kekerabatan.

Sementara itu, suku Jawa, Madura, Sunda, dan Betawi tidak memiliki tradisi serupa.

Budaya Jawa lebih menekankan pemberian nama sebagai refleksi harapan orang tua kepada anak.

"Budaya Jawa melihat nama sebagai harapan dan doa orang tua, bukan sebagai identitas keluarga yang kaku," jelas Dr. Budiana.

Anak-anak Jawa biasanya memiliki nama yang berbeda tiap generasi, dan nama keluarga tidak selalu diwariskan secara konsisten.

Ini berbeda dengan suku-suku yang memiliki konsep marga yang sudah mengakar kuat.

Sejarah Jawa yang panjang dan penuh campuran budaya dari India, Cina, dan Arab turut membentuk tradisi penamaan yang unik ini.

Kompleksitas masyarakat Jawa yang dinamis membuat sistem marga sulit terbentuk secara konsisten.

Selain itu, status sosial dalam masyarakat Jawa bisa terlihat dari jumlah kata dalam sebuah nama.

Dr. Budiana menambahkan, "Nama yang terdiri dari satu kata biasanya milik masyarakat umum, sementara tiga sampai empat kata menandakan status sosial yang lebih tinggi."

Budaya Jawa menganut sistem kekerabatan bilateral, yang melihat garis keturunan dari kedua pihak, ayah dan ibu.

Hal ini menyebabkan masyarakat Jawa tidak menekankan satu garis keturunan tertentu sebagai identitas utama, sehingga kebutuhan untuk menggunakan marga sebagai penanda keluarga tidak muncul.

“Orang Jawa melihat identitas keluarga lebih fleksibel dan tidak terpaku pada sebuah nama keluarga tetap,” terang Dr. Budiana.

Pada masa lalu, sistem marga di Jawa lebih terbatas untuk kalangan ningrat atau bangsawan yang menggunakan gelar seperti Raden, Mas, atau Tumenggung untuk menunjukkan status sosial.

Namun, bagi rakyat biasa, penggunaan marga dianggap tidak penting karena tidak dibebani tanggung jawab sosial yang sama.

Penghormatan terhadap leluhur dalam tradisi Jawa diwujudkan melalui ritual dan upacara adat, seperti ziarah kubur dan slametan, bukan melalui penamaan keluarga secara kaku.

Filosofi hidup Jawa yang menekankan kesederhanaan membuat identitas pribadi lebih dinilai melalui karakter dan karya, bukan garis keturunan semata.

Fenomena ini memperlihatkan keragaman budaya Indonesia yang variatif dan memberikan pemahaman baru akan cara masyarakat Jawa membangun ikatan sosial tanpa sistem marga yang baku. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#BRIN #jawa #antropologi #budaya #marga