Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Prof. Ryu Hasan Jelaskan Bahwa Kebahagiaan Bukan Soal Senang, tapi Soal Makna Hidup yang Disadari

Silva Ayu Triani • Rabu, 8 Oktober 2025 | 19:10 WIB
Ilustrasi dua lansia tersenyum dengan tangan terbuka, melambangkan kebahagiaan dan kepuasan hidup di usia lanjut.
Ilustrasi dua lansia tersenyum dengan tangan terbuka, melambangkan kebahagiaan dan kepuasan hidup di usia lanjut.

RADARTUBAN - Di tengah maraknya pencarian makna bahagia di era modern, perbedaan antara kesenangan dan kebahagiaan sering kali kabur.

Fenomena ini menarik perhatian publik, terutama ketika berbagai survei global mencatat posisi Indonesia yang masih berada di peringkat ke-83 dari 140-an negara dalam indeks kebahagiaan dunia tahun 2025.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pemahaman masyarakat tentang kebahagiaan sejati dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup.

Padahal, kebahagiaan sejati bukanlah sekadar senyum di depan kamera atau unggahan makanan di media sosial.

Hal itu disampaikan oleh dokter bedah saraf, Prof. Ryu Hasan, di Podcast ORATOR pada Sabtu (2/8).

Dia membedakan kegembiraan dengan kebahagiaan, menekankan bahwa kebahagiaan adalah hasil kesadaran, bukan sekadar sensasi menyenangkan atau ketergantungan terhadap kegembiraan.

Prof. Ryu mengungkapkan pentingnya membedakan antara kebahagiaan dan kegembiraan. Menurutnya, kegembiraan adalah sensasi sementara, seperti senang mendapatkan makanan atau hadiah.

Sedangkan kebahagiaan merupakan hasil dari kesadaran diri yang lebih mendalam dan berkelanjutan.

“Kebahagiaan bukan sekadar rasa senang, tapi rasa ada dan makna hidup yang disadari,” kata Prof. Ryu.

Manusia merupakan salah satu dari lima spesies di dunia yang memiliki kesadaran akan keberadaan diri, selain lumba-lumba, orang utan, simpanse, dan bonobo.

Kesadaran ini yang membuat manusia mampu membedakan antara kesenangan sesaat dan kebahagiaan yang mendalam.

Jika pada hewan yang tidak memiliki kesadaran penuh, seperti tikus, kebahagiaan hanya muncul ketika ancaman hidupnya hilang, misalnya saat menemukan makanan. Namun pada manusia, rasa bahagia jauh lebih kompleks. 

Dia tidak hanya berasal dari pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan juga dari rasa aman terhadap masa depan.

“Kebahagiaan manusia tidak berhenti pada hari ini, tapi juga mencakup jaminan makan lima hingga lima belas tahun ke depan,” ujar Prof. Ryu.

Menurut teori neurosains, manusia memiliki sistem kesadaran temporal, yakni kemampuan untuk mengingat masa lalu, hidup di masa kini, dan memikirkan masa depan.

Karena itu, kebahagiaan manusia sering kali berkaitan dengan rasa tenang dan kepastian akan keberlangsungan hidup dirinya dan keluarganya.

Penjelasan ini juga memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu sejalan dengan kemewahan atau materi.

Pandangan Prof. Ryu juga menyinggung tentang fenomena depresi yang meningkat, khususnya pada generasi muda. Ia menjelaskan bahwa depresi bukan sekadar kondisi sedih atau kecewa, melainkan gangguan fungsi otak yang kompleks.

Orang yang depresi sebenarnya sangat membutuhkan teman dan dukungan, namun paradoksnya mereka kerap menjauh dari interaksi sosial.

“Musuh terbesar orang depresi adalah nasihat yang tidak diminta. Yang paling penting adalah hadir dan mendengarkan dengan sabar,” tegasnya.

Pada akhirnya, kebahagiaan dan kesehatan mental adalah dua aspek yang sangat berkaitan. Sebuah kesadaran kolektif dan pemahaman yang lebih dalam mengenai keduanya perlu ditingkatkan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Indonesia bisa berupaya memperbaiki kualitas hidup warganya dan mengejar negara-negara yang lebih dulu berada di posisi atas dalam indeks kebahagiaan dunia.

Di sisi lain, perhatian khusus terhadap penanganan depresi dan penyakit mental lainnya juga harus menjadi prioritas nasional untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera secara fisik dan emosional. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#dunia #tua #publik #kamera #Indonesia #modern