RADARTUBAN - Selama ini, banyak yang percaya bahwa perilaku dan keputusan kita hanya dipengaruhi oleh kemauan dan lingkungan.
Namun, Dr. Edmi Edison, Ph.D, seorang ahli neurosains dari Badan Lembaga Neuroscience Universitas Prima Indonesia, menjelaskan bahwa kunci kendali emosi, perilaku, dan pengambilan keputusan terletak pada otak, dan ilmu neurosains kini menjadi alat revolusioner untuk memahami hal tersebut.
Dalam podcast di kanal YouTube Suara Berkelas (1/10), Dr. Edmi memaparkan bagaimana teknologi pencitraan otak real-time seperti EEG (elektroensefalografi) dan fNIRS (Near-Infrared Spectroscopy Fungsional) mulai menggantikan metode riset konvensional seperti wawancara atau kuesioner.
Metode lama ini rentan pada kebohongan atau jawaban tidak jujur, sementara teknologi neurosains mampu menangkap aktivitas otak yang sesungguhnya.
Inti dari pengendalian diri terletak pada otak depan (prefrontal cortex), yang berfungsi sebagai "sistem pengereman" (breaking system).
Sistem ini memungkinkan seseorang untuk mengendalikan perilaku meskipun tahu bahwa tindakannya salah.
Dr. Edmi menjelaskan, ketika sistem ini terganggu, misalnya akibat adiksi, seperti kecanduan konten pornografi atau perilaku impulsif sehingga seseorang akan sulit mengatur tindakannya, meskipun dia tetap cerdas secara intelektual.
"Orang yang terindikasi adiksi sudah tahu itu salah, tapi dia tidak bisa berhenti. Itu menunjukkan kerusakan fungsi otak depan," tegasnya.
Perilaku sosial, seperti kebiasaan mengulur waktu (jam karet) dan korupsi, juga dikaitkan dengan neurosains, khususnya teori "loss aversion" (menghindari kerugian).
Manusia cenderung lebih takut kehilangan sesuatu yang dimiliki daripada bersemangat mencari keuntungan baru.
Aplikasi ilmu ini juga merambah dunia bisnis melalui Neuromarketing.
Dengan menggunakan teknologi seperti eye tracker dan pemantauan aktivitas otak bisa memberikan data objektif tentang perhatian dan respons konsumen terhadap sebuah produk atau iklan.
Ini adalah terobosan yang melampaui riset perilaku konsumen tradisional.
Selain itu, muncul konsep Neuro Leadership yang bertujuan membentuk pemimpin masa depan.
Kepemimpinan modern tidak lagi hanya mengandalkan imbalan (reward) dan hukuman (punishment), tetapi harus mampu menginspirasi dan berbagi visi secara mendalam, karena hal ini berdampak jangka panjang pada kinerja dan motivasi tim.
Dalam konteks pendidikan dan pengembangan karakter, kurikulum formal saat ini terlalu fokus pada penilaian nilai akademik sehingga mengabaikan pembentukan karakter, rasa penasaran (curiosity), dan soft skills komunikasi.
Pendidikan yang ideal seharusnya bertujuan membangun keberanian beropini dan kemampuan berpikir kritis, mengingat otak manusia terus berkembang sepanjang hidup.
Komunikasi yang efektif pun perlu memperhatikan bahasa nonverbal yang memiliki kekuatan jauh lebih dominan daripada kata-kata verbal saja.
Tindakan preventif melalui pendidikan berbasis neurosains sangat diperlukan agar generasi mendatang mampu mengelola diri, emosi, dan perilakunya lebih baik di tengah tantangan sosial dan profesional. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama