RADARTUBAN - Pola asuh di masa kecil memiliki peran penting dalam membentuk cara seseorang menjalin hubungan interpersonal saat dewasa.
Hal ini diungkap oleh Dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, seorang psikiater, dalam podcast mengenai gaya keterikatan (attachment style) di kanal YouTube Ruang Tunggu pada Sabtu (10/5).
Attachment style merupakan konsep psikologis yang menjelaskan bagaimana seseorang membentuk dan mempertahankan ikatan emosional.
Gaya keterikatan ini berakar kuat dari interaksi dini anak dengan figur penting, terutama orang tua, dan sangat dipengaruhi oleh respons mereka terhadap kebutuhan emosional sang anak.
Dr. Andreas Kurniawan memaparkan empat gaya keterikatan utama yang menjadi pondasi perilaku dalam hubungan:
1. Secure Attachment (Aman)
Ditandai dengan kemampuan menenangkan diri sendiri saat berpisah dengan figur penting.
Individu dengan gaya ini cenderung memiliki hubungan yang stabil dan sehat, merasa nyaman dengan keintiman sekaligus kemandirian.
2. Anxious Attachment (Cemas)
Timbul dari pola asuh yang inkonsisten, menyebabkan kecemasan berlebihan akan ditinggalkan.
Individu ini cenderung mencari kepastian dan validasi dari pasangan, yang seringkali memicu perilaku clingy (terlalu bergantung).
3. Avoidant Attachment (Menghindar)
Berasal dari pengalaman di mana emosi diabaikan.
Individu ini tumbuh menjadi sosok yang menekan perasaan, terlihat sangat mandiri, tetapi kesulitan membangun koneksi emosional yang mendalam dan intim, bahkan berpotensi melakukan ghosting.
4. Disorganized Attachment (Kacau)
Merupakan gabungan dari situasi bingung dan konflik emosional, seringkali berakar dari lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
Gaya ini menghasilkan hubungan yang penuh ketidakpastian dan konflik karena adanya percampuran perilaku cemas dan menghindar.
"Percampuran gaya keterikatan yang berbeda dalam sebuah hubungan berpotensi memicu konflik yang sulit dipahami jika tanpa bekal psikologis yang memadai," jelas Dr. Andreas.
Pola asuh yang konsisten dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak adalah faktor penentu utama terbentuknya gaya keterikatan yang sehat.
Sebaliknya, inkonsistensi akan membentuk gaya keterikatan yang bermasalah.
Oleh karena itu, pentingnya kesadaran dalam mengenali dan menerima perbedaan attachment style tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memahami perilaku pasangan.
Kemampuan menenangkan diri sendiri dan membangun komunikasi yang terbuka untuk menciptakan rasa aman dalam hubungan dan mencegah konflik berlarut.
Dr. Andreas menyimpulkan bahwa gaya keterikatan adalah salah satu aspek terpenting dalam kehidupan sosial manusia, yang bermula dari hubungan anak dengan orang tua dan terus memengaruhi interaksi kita sebagai orang dewasa.
Pemahaman tentang attachment style ini adalah langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat dan baik kedepannya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama