RADARTUBAN - Di berbagai daerah di Indonesia, kelahiran bayi bukan hanya momen keluarga, tapi juga peristiwa sosial yang dirayakan dengan penuh syukur dan kebersamaan.
Salah satu tradisi yang masih lestari di beberapa wilayah Jawa Timur adalah srokalan.
Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur atas lahirnya seorang anak, sekaligus bentuk doa agar sang bayi tumbuh sehat, diberkahi, dan membawa kebaikan bagi keluarga.
Srokalan bukan sekadar acara kumpul-kumpul. Di dalamnya terkandung nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan yang kuat.
Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa masyarakat lokal punya cara sendiri untuk merayakan kehidupan dengan penuh makna dan rasa hormat.
Sholawat Asrokol dan Doa Bersama
Salah satu ciri khas srokalan adalah pembacaan sholawat asrokol.
Sholawat ini dibaca bersama-sama oleh para tamu yang hadir, biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh kampung.
Suasana pun menjadi khusyuk dan hangat, karena selain sholawat, acara juga diisi dengan doa bersama dan mauidhoh hasanah, atau nasihat dan tausiyah singkat yang mengingatkan tentang pentingnya mendidik anak dengan baik dan penuh kasih.
Bagi masyarakat, momen ini bukan hanya tentang bayi yang baru lahir, tapi juga tentang memperkuat ikatan sosial.
Tetangga, saudara, dan teman-teman datang bukan hanya untuk makan, tapi untuk ikut mendoakan dan merayakan.
Lokal Pride yang Tetap Relevan
Srokalan adalah bentuk local pride yang patut dijaga.
Di tengah gempuran budaya modern dan acara-acara instan, tradisi ini tetap bertahan karena punya akar yang kuat dalam nilai-nilai keislaman dan budaya Jawa.
Tak heran jika banyak keluarga yang tetap memilih mengadakan srokalan, meski dengan format yang lebih sederhana.
Biasanya, srokalan juga digabung dengan acara aqiqah, yakni penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak.
Daging kambing yang disembelih kemudian dimasak dan dibagikan kepada tamu undangan. Menu khas seperti sate, gulai, atau tengkleng pun jadi sajian utama yang dinikmati bersama.
Lebih dari Sekadar Tradisi
Meski terlihat sederhana, srokalan punya makna yang dalam.
Dia mengajarkan tentang rasa syukur, kebersamaan, dan pentingnya memulai kehidupan anak dengan doa dan harapan baik.
Tradisi ini juga menjadi ruang bagi orang tua untuk memperkenalkan anaknya kepada lingkungan sosial sejak dini, sebuah langkah awal dalam membangun relasi yang sehat dan harmonis.
Di era sekarang, menjaga tradisi seperti srokalan bukan berarti menolak kemajuan.
Justru, ini adalah cara untuk tetap berpijak pada akar budaya sambil berjalan ke depan.
Karena pada akhirnya, tradisi bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang bagaimana kita merawat nilai-nilai yang membuat hidup lebih bermakna. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama