Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hindia Bongkar Makna Lagu Untuk Apa / Untuk Apa?: Dari Keyakinan ke Penerimaan

Imanda Najwa Kirana Dewi • Minggu, 19 Oktober 2025 | 00:35 WIB
Baskara Putra menjelaskan struktur dan makna lagu “Untuk Apa / Untuk Apa?
Baskara Putra menjelaskan struktur dan makna lagu “Untuk Apa / Untuk Apa?

RADARTUBAN — Di balik lirik-lirik penuh makna yang sering membuat pendengarnya merenung, Baskara Putra ternyata menyimpan logika penulisan yang sangat terstruktur.

Dalam program Ini Karya Gue di kanal YouTube Authenticity ID, musisi yang dikenal dengan nama Hindia ini membongkar filosofi di balik lagu “Untuk Apa / Untuk Apa?”

Salah satu karya paling kontemplatif dalam album Menari dengan Bayangan (2019).

Lagu tersebut, kata Baskara, lahir dari perenungan tentang perubahan keyakinan dalam hidup .

Ddari kepastian menuju keraguan, dari “aku tahu” menjadi “aku belajar menerima.” Ia bahkan menyebut lagu ini sebagai eksperimen penulisan “menggunakan ilmu”.

Awalnya, “Untuk Apa” dan “Untuk Apa?” adalah dua lagu berbeda. Bagian pertama menggambarkan keyakinan atas tujuan hidup (“Hal ini gue lakukan untuk ini”), sedangkan bagian kedua menghadirkan fase keraguan (“Buat apa sih sebenarnya?”).

Dua pandangan itu akhirnya ia satukan menjadi satu karya utuh.

Sebuah simbol perjalanan manusia yang tidak lagi mencari jawaban pasti, melainkan belajar berdamai dengan ketidakpastian.

Rumah Sebagai Harta, Bukan Bangunan

Baskara menjelaskan bahwa metafora “rumah” yang muncul berulang kali dalam lagu ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kekayaan duniawi.

Lirik “Ruang demi ruang dibangun bersama” mencerminkan ambisi menumpuk harta dan status sosial.

Namun di ujung lagu, semua “rumah” itu akan kembali “ke tanah” — sebuah simbol bahwa segala yang dikejar manusia pada akhirnya akan lenyap bersama waktu.

Ia juga menggunakan permainan rima dan kontras secara cermat: kata-kata seperti menimbun dan berdiri ditempatkan berdampingan untuk menunjukkan benturan makna antara akumulasi dan eksistensi.

Ketika Medusa Bertemu Dewa Siwa

Selain permainan diksi, lagu ini juga kaya akan referensi budaya.

Baskara memadukan mitologi Yunani dan Hindu—dari Medusa yang keras kepala hingga Dewa Siwa yang melambangkan nafsu dan kehancuran—dengan kisah Adam dan Hawa dalam agama Abrahamik.

Analogi “Hawa jadi panas, lupa cuaca” menjadi refleksi tentang manusia yang kehilangan kendali karena terlalu larut dalam hasrat.

PS4 Tanpa Player 2: Sunyi di Tengah Ramai

Lirik “PS4 Nintendo Switch tanpa player 2” menggambarkan kesepian eksistensial di tengah kehidupan modern.

Bagi Baskara, ini adalah sindiran terhadap manusia yang hidup dalam mode multiplayer, tapi memilih bermain sendirian demi ambisi pribadi.

Ikat Rambut dan Cemara

Pada bagian kedua lagu, gaya tulisannya berubah drastis. Baskara meninggalkan simbol-simbol besar dan masuk ke ranah personal, misalnya pada baris “mengangkat ikat rambutmu yang tertinggal di lengan kiri mobilku.”

Benda sepele seperti ikat rambut menjadi pemicu kenangan yang berat — simbol trauma yang melekat pada hal-hal sederhana.

Lagu kemudian berakhir dengan frasa “tumbuh cemara” — sebuah penyelesaian yang tenang setelah badai keraguan.

Baskara mengonfirmasi bahwa ini merujuk pada Keluarga Cemara, simbol nilai keluarga yang lebih berharga daripada materi. “Rumah sejati itu ya ibu,” ujarnya menutup pembahasan.

“Pada akhirnya, kalau ada perpisahan kayak gini, enggak bakal kenapa-napa kok. Lu akan lanjut kehidupan lu,” tutur Baskara dengan nada tenang — seperti seseorang yang sudah berdamai dengan segala kehilangan.

Lagu “Untuk Apa / Untuk Apa?” bukan sekadar musik untuk didengar, tapi juga cermin bagi siapa pun yang sedang belajar menata ulang makna hidup: tentang apa yang sebenarnya kita kejar, dan untuk apa semuanya dilakukan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#berdamai #filosofi #Hindia #Untuk Apa #Lirik #lagu #baskara putra #Ketidakpastian