Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kasus Flu Burung pada Kucing, Dokter Hewan Temukan Cara Pengobatan Yang Efektif

Bihan Mokodompit • Rabu, 22 Oktober 2025 | 23:10 WIB
Ilustrasi kucing dalam perawatan dokter hewan
Ilustrasi kucing dalam perawatan dokter hewan

RADARTUBAN – Kasus flu burung pada kucing kini menjadi perhatian dunia ilmiah.

Setelah penelitian yang dipimpin oleh University of Maryland menunjukkan bahwa virus tersebut bisa diatasi jika mendapat pengobatan sejak dini.

Penelitian ini berawal dari temuan Dr. Jake Gomez, dokter hewan di Cross Street Small Animal Veterinary Hospital, Tulare, yang menangani empat ekor kucing terinfeksi flu burung.

Dua dari empat kucing tersebut meninggal, namun dua lainnya berhasil disembuhkan dengan Tamiflu, obat antivirus yang umumnya digunakan untuk manusia.

“Universitas Maryland menghubungi saya karena mereka ingin mengambil sampel dari kucing liar,” kata Gomez.

“Mereka ingin mengetahui apakah kucing-kucing liar yang datang ke penampungan untuk disterilkan dan dilepaskan kembali itu membawa virus flu burung atau memiliki antibodi terhadapnya. Intinya, mereka ingin melihat seberapa luas penyebarannya.”

Awal Keterlibatan Gomez dalam Penelitian

Gomez kemudian menawarkan diri untuk membantu mengambil sampel darah dari kucing yang datang ke kliniknya dan mengirimkannya ke pihak universitas.

“Mereka menanyakan pengalaman saya dalam menangani kasus di sapi dan hewan kecil,” ujarnya. “Ketika saya menyebutkan bahwa saya memiliki dua kucing yang saya curigai terinfeksi flu burung, mereka langsung tertarik.”

Ia mengaku tidak menyangka bahwa penelitiannya akan menarik perhatian banyak pihak.

“Ini benar-benar di luar dugaan saya,” ujar Gomez.

 “Saat Universitas Maryland meminta saya menulis makalah, saya setuju. Namun setelah saya menerbitkannya, saya tidak menyangka hasilnya akan sebesar ini. Saya kira hanya akan dibaca oleh sesama dokter hewan atau ilmuwan.”

Hasil Studi dan Manfaat Tamiflu

Menurut Gomez, penelitian tersebut menunjukkan bahwa flu burung pada kucing kemungkinan besar berasal dari wabah flu burung sebelumnya.

“Dalam kasus ini, masuk akal untuk berasumsi bahwa kucing-kucing itu tertular selama wabah flu burung terakhir, karena pada saat wabah sebelumnya mereka belum lahir,” jelasnya.

“Satu-satunya sumber antibodi lain mungkin dari vaksin, namun kami tidak memiliki vaksin flu burung untuk kucing.”

Ia menambahkan, “Bisa dikatakan bahwa Tamiflu membantu proses pemulihan kucing-kucing ini secara cepat dan sukses. Namun hal itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena kami tidak melakukan penelitian terkontrol. Saya tidak mungkin menginfeksi kucing secara sengaja lalu memberikan sebagian obat dan sebagian plasebo. Apalagi, hampir semua kucing yang terinfeksi flu burung saat itu meninggal.”

Meski begitu, Gomez percaya bahwa pengobatan dengan Tamiflu memberikan hasil yang menjanjikan.

“Saya tidak ingin orang berpikir bahwa kami hanya asal memberi obat dan berharap yang terbaik,” katanya. “Dalam situasi tersebut, saya berusaha melakukan yang terbaik berdasarkan informasi yang saya miliki. Saya sangat bersyukur karena dua dari empat kucing berhasil sembuh.”

Penjelasan Ahli Tentang Virus H5N1

Peneliti utama Dr. Kristen K. Coleman dari University of Maryland menjelaskan bahwa virus H5N1 kini semakin berbahaya karena mampu menular antarspesies.

“Virus ini telah berevolusi, dan cara penularannya antarspesies, dari burung ke kucing, dari sapi ke kucing, bahkan dari kucing ke manusia, sangat mengkhawatirkan,” ujar Coleman.

“Flu burung sangat mematikan bagi kucing, dan kita perlu segera mengetahui seberapa luas penyebarannya di populasi kucing untuk menilai risiko penularan ke manusia. Kami ingin melindungi manusia sekaligus hewan peliharaan.”

Coleman menegaskan bahwa flu burung pada kucing bisa disembuhkan jika mendapat penanganan cepat.

“Yang paling penting, penelitian kami menunjukkan bahwa H5N1 bisa disembuhkan pada kucing yang menerima perawatan suportif dan antivirus sejak dini,” katanya.

“Kucing tidak harus selalu dieutanasia. Mereka bisa pulih sepenuhnya dan tampaknya memiliki kekebalan kuat terhadap infeksi ulang selama beberapa bulan setelah sembuh.”

Tantangan dan Etika Penelitian

Meskipun hasil penelitian ini membawa harapan, Gomez menilai studi lanjutan akan sulit dilakukan karena faktor etika.

“Secara ideal, kita harus mengambil ribuan kucing dan secara sengaja menginfeksi mereka dengan flu burung,” jelasnya.

“Sebagian diberi pengobatan, sebagian tidak, untuk melihat perbedaan hasil. Namun secara etis, hal itu tidak bisa diterima dan berisiko besar.”

Namun, ia optimistis bahwa akan ada lebih banyak data dari pengalaman dokter hewan di lapangan.

“Saya rasa ke depan akan semakin banyak orang yang berkata, ‘Saya menggunakan Tamiflu dan hasilnya baik,’” ujarnya.

“Angka-angka ini penting — dimulai dari kecil, tapi bisa berkembang cepat.”

Penelitian University of Maryland membuka harapan baru dalam dunia kedokteran hewan.

Penggunaan Tamiflu pada kasus flu burung pada kucing terbukti memberikan peluang besar untuk pemulihan.

Meski studi lanjutan tetap dibutuhkan, hasil ini menunjukkan bahwa dengan penanganan cepat dan tepat, virus H5N1 bukan lagi vonis kematian bagi kucing, melainkan peluang untuk sembuh dan bertahan hidup. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#virus #kucing #flu burung #Tamiflu