RADARTUBAN - Saat dunia seni semakin dipenuhi oleh karya digital berbasis AI, sekelompok anak muda memilih jalan berbeda.
Mereka kembali ke akar, menggali makna dan keindahan seni lukis tradisional, lalu mempersembahkannya dalam sebuah pameran bertajuk Warisan Jiwa.
Digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pameran ini menghadirkan 110 karya lukis dengan nilai total sekitar Rp 2,5 miliar.
Lebih dari sekadar ajang seni, acara ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus berbagi kebaikan lewat kegiatan sosial.
Di balik pameran Warisan Jiwa ada semangat besar yang digagas oleh Yayasan Cahaya Cita bersama Natalie Airlangga Hartarto.
Bukan sekadar ajang seni, Warisan Jiwa tumbuh menjadi gerakan solidaritas yang lahir dari kepedulian dan kreativitas generasi Z.
Menjadi lebih dari sekadar pameran, acara ini juga membawa misi sosial.
Sebagian besar hasil penjualan karya seni akan disumbangkan untuk pembangunan klinik kesehatan gratis di Cengkareng, Tangerang.
Bahkan sebelum resmi dibuka, sejumlah lukisan sudah terjual dengan total nilai mencapai Rp 200 juta sebuah awal yang menggembirakan untuk gerakan penuh makna ini.
Melalui pameran ini, kami ingin mengajak anak muda untuk kembali mengenal dan mencintai budaya serta warisan Indonesia tanpa campur tangan teknologi seperti AI," ujar Natalie Airlangga Hartarto, pendiri Yayasan Cahaya Cita, Sabtu (25/10).
"Karena bagi kami, seni punya kekuatan yang luar biasa untuk menyatukan manusia dari berbagai latar belakang."
Natalie, putri dari Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pameran ini terbuka untuk semua kalangan.
Tak ada batasan usia bagi para pelukis yang ingin berpartisipasi beberapa di antaranya bahkan masih berusia 15 tahun, membawa semangat muda yang segar ke dalam dunia seni.
Natalie percaya bahwa keberagaman usia dan gaya lukisan para peserta adalah cerminan semangat inklusif yang ingin dihadirkan oleh Warisan Jiwa.
Dari pelukis remaja hingga seniman berpengalaman, semuanya diberi ruang untuk bersuara lewat karya mereka.
Natalie menambahkan, hasil penjualan karya seni dari pameran ini akan digunakan untuk membangun sebuah klinik yang menyediakan layanan gratis bagi masyarakat.
Klinik tersebut rencananya akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, mulai dari sunatan massal, operasi katarak, hingga perawatan bibir sumbing.
Barindra Surjaudaja, salah satu pendiri Cahaya Cita, menekankan bahwa gerakan ini bukan hanya soal seni dan sosial, tapi juga tentang memberi ruang bagi seniman lokal untuk bersinar.
Menurutnya, banyak pelukis Indonesia yang punya karya luar biasa, namun belum mendapat kesempatan untuk dikenal lebih luas oleh publik.
"Pameran seperti ini memberi mereka kesempatan untuk tampil dan dikenal lebih luas," ujar Bari dengan penuh semangat.
"Banyak seniman lokal yang berbakat, dan mereka layak mendapat sorotan yang pantas," kata dia.
Presiden Direktur Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra, turut hadir membuka pameran dan menyambut hangat semangat para anak muda yang terlibat.
Melihat antusiasme yang tinggi, dia memutuskan untuk memperpanjang masa pameran hingga 28 Oktober 2025, agar lebih banyak pengunjung punya kesempatan menikmati keindahan karya-karya yang dipajang.
Dia berharap Warisan Jiwa bisa menjadi titik awal lahirnya lebih banyak gerakan seni yang tak hanya indah secara visual, tapi juga memberi dampak sosial yang nyata.
Seni, menurutnya, punya kekuatan untuk menggerakkan hati dan menciptakan perubahan.
Pameran Warisan Jiwa masih bisa dinikmati hingga Selasa, (28/10) di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Di tengah gempuran teknologi dan algoritma, generasi Z menunjukkan langkah nyata untuk merawat esensi seni yang lahir dari jiwa manusia bukan dari mesin. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama