RADARTUBAN– Sebuah penelitian internasional terbaru mengungkapkan perbedaan ukuran rata-rata alat kelamin pria (penis) saat ereksi di berbagai negara.
Studi tersebut dikumpulkan oleh Data Pandas dan divisualisasikan oleh Visual Capitalist, yang menampilkan data komparatif dari lebih dari 80 negara di dunia.
Ekuador Jadi Negara dengan Ukuran Terpanjang di Dunia
Dalam laporan tersebut, Ekuador menempati posisi teratas dengan panjang rata-rata penis ereksi mencapai 17,6 sentimeter.
Peringkat berikutnya didominasi oleh negara-negara dari kawasan Amerika Selatan dan Afrika, yang rata-rata memiliki ukuran di atas 15 sentimeter.
Berikut lima negara dengan rata-rata ukuran penis ereksi terpanjang di dunia:
- Ekuador – 17,6 cm
- Republik Kongo – 17,2 cm
- Nigeria – 17,0 cm
- Venezuela – 17,0 cm
- Kolombia – 16,8 cm
Para peneliti menyebut bahwa faktor genetik dan lingkungan berperan besar terhadap variasi ukuran ini.
Namun, mereka menegaskan bahwa ukuran tidak berkaitan langsung dengan kesehatan atau kemampuan seksual pria.
Asia Tenggara Catat Ukuran Terkecil
Berbeda dengan negara-negara di Afrika dan Amerika Selatan, negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur berada di posisi terbawah dalam daftar tersebut.
Lima negara dengan rata-rata ukuran terkecil adalah:
- Myanmar – 10,2 cm
- Nepal – 9,9 cm
- Kamboja – 9,8 cm
- Korea Utara – 9,7 cm
- Thailand – 9,4 cm
Posisi Indonesia Sedikit di Atas Rata-Rata Kawasan
Indonesia sendiri memiliki rata-rata panjang penis ereksi sebesar 10,4 sentimeter.
Hasil ini sedikit lebih tinggi dibanding Myanmar, namun masih berada di bawah rata-rata global, yang berkisar antara 12–13 cm.
Para peneliti menilai bahwa postur tubuh dan perbedaan tinggi badan khas Asia Tenggara turut memengaruhi hasil tersebut.
Faktor biologis serta lingkungan juga disebut berperan dalam variasi ukuran ini.
Rata-Rata Global Berdasarkan Kawasan
- Afrika & Amerika Selatan: di atas 15 cm
- Eropa: 12,5–14,5 cm
- Asia Timur (China, Jepang, Korea): 11–13 cm
Penelitian ini menggabungkan hasil dari berbagai studi akademik, termasuk analisis Veale et al. (2014) dan Lynn (2013), serta sejumlah survei kesehatan masyarakat.
Semua data berfokus pada pengukuran penis dalam kondisi ereksi penuh.
Ukuran Bukan Penentu Kesehatan Seksual
Meski data tersebut menarik secara ilmiah, para ahli mengingatkan agar tidak menjadikan ukuran sebagai tolok ukur utama dalam kesehatan atau performa seksual.
Variasi teknik pengukuran, jumlah partisipan, hingga faktor budaya dapat memengaruhi hasil dari tiap negara. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni