RADARTUBAN- Uang itu gampang datang, tapi juga gampang hilang kalau nggak dikelola dengan bijak.
Supaya nggak kebingungan di akhir bulan karena dompet tiba-tiba kosong, penting banget buat tahu ke mana saja uang kita pergi.
Salah satu cara paling sederhana untuk mulai mengatur keuangan adalah dengan membuat laporan keuangan pribadi.
Anggaran bulanan itu idealnya nggak dibuat asal-asalan, tapi disesuaikan dengan laporan keuangan yang sudah kamu catat.
Dengan begitu, alokasi dana bisa lebih pas dan tujuan finansial jangka Panjang seperti dana darurat, liburan, atau investasi bisa lebih mudah tercapai.
Laporan keuangan juga punya peran penting dalam mencegah kamu terjebak utang.
Karena setiap pemasukan dan pengeluaran sudah punya posnya masing-masing, kamu jadi tahu mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang bisa ditunda.
Meski penting, nyatanya masih banyak orang yang belum tahu cara membuat laporan keuangan pribadi apalagi soal item apa saja yang sebaiknya dicatat.
Padahal, langkah ini bisa jadi kunci untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak.
Nah, supaya nggak bingung harus mulai dari mana, kami sudah merangkum panduan praktis dari laman sahabat.pegadaian.co.id dan mufdana.muf.co.id.
Panduan ini cocok banget buat kamu yang masih pemula dan ingin mulai mencatat keuangan pribadi dengan cara yang simpel tapi efektif.
1. Pilih Model Catatan yang Paling Nyaman
Langkah pertama dalam membuat laporan keuangan pribadi adalah memilih media pencatatan yang paling cocok dan nyaman buat kamu.
Nggak ada aturan baku yang penting kamu konsisten dan mudah memahaminya.
Kalau kamu tipe yang suka cara klasik, buku tulis bisa jadi pilihan.
Supaya lebih rapi, kamu bisa pakai pulpen dengan warna berbeda untuk membedakan antara pemasukan dan pengeluaran.
Misalnya, biru untuk uang masuk dan merah untuk uang keluar.
2. Buat Tabel Neraca dan Arus Kas
Setelah menentukan media pencatatan, langkah berikutnya adalah mulai menyusun tabel keuangan pribadi.
Minimal, kamu perlu dua jenis tabel: buku neraca dan buku kas. Supaya lebih rapi, sebaiknya keduanya dibuat terpisah kalau pakai spreadsheet, kamu bisa bikin di worksheet yang berbeda.
Buku neraca berfungsi untuk mencatat aset atau kekayaan yang berkaitan dengan tujuan finansial jangka panjang.
Seperti dana pernikahan, rencana beli rumah, atau biaya pendidikan.
Sementara itu, buku kas digunakan untuk memantau aliran uang masuk dan keluar setiap bulan.
3. Buat Tiga Kolom Penting
Setelah menentukan jenis tabel, sekarang saatnya mengisi dengan informasi yang tepat.
Di buku neraca, kamu bisa mulai dengan membuat tiga kolom utama: aset, harta, dan utang.
Kolom aset dan harta berisi apa saja yang kamu miliki, sementara kolom utang mencatat kewajiban atau pinjaman yang masih harus dibayar.
Dengan begitu, kamu bisa melihat seberapa sehat kondisi finansialmu secara keseluruhan.
Lalu, di buku kas, buat juga tiga kolom: pemasukan, pengeluaran, dan arus kas bersih.
Kolom ini akan membantu kamu melacak uang yang masuk dan keluar setiap bulan.
Serta menghitung sisa uang yang bisa kamu simpan atau alokasikan untuk kebutuhan lain.
4. Tentukan Pos di Setiap Kolom
Setelah tabel siap, sekarang saatnya mengisi setiap kolom dengan kategori yang sesuai.
Ini penting supaya kamu bisa melihat dengan jelas ke mana uangmu pergi dan dari mana asalnya.
Di kolom aset, kamu bisa masukkan hal-hal yang kamu miliki dan bernilai, seperti tabungan, emas, rumah, kendaraan, atau saham.
Sementara di kolom utang, catat semua kewajiban yang masih harus dibayar.
Misalnya pay later, pinjaman, atau tagihan kartu kredit.
5. Masukkan Nominal Sesuai Pos
Setelah semua kategori pos sudah kamu tentukan, langkah selanjutnya adalah mengisi masing-masing kolom dengan angka yang sesuai.
Misalnya, kalau kamu menerima gaji sebesar Rp 4,5 juta per bulan, langsung saja masukkan angka tersebut ke dalam pos gaji di kolom pemasukan atau arus kas masuk.
Lakukan hal yang sama untuk pos lainnya baik itu pengeluaran seperti belanja bulanan, transportasi, atau hiburan, maupun aset seperti tabungan atau investasi.
6. Susun dan Evaluasi Laporan Arus Kas
Setelah semua data tercatat, jangan lupa untuk rutin mengevaluasi laporan arus kas setiap bulan.
Dari sini, kamu bisa melihat seberapa sehat kondisi keuanganmu.
Kalau pemasukan lebih besar daripada pengeluaran, tandanya keuanganmu aman dan terkendali.
Tapi kalau ternyata pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu alarm buat mulai menyesuaikan gaya hidup.
Mungkin ada pengeluaran yang bisa dikurangi atau kebiasaan belanja yang perlu diatur ulang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama