RADARTUBAN - Tahukah kalian bahwa otak manusia memiliki aktivitas listrik yang disebut gelombang otak.
Aktivitas listrik otak berperan penting dalam mengatur berbagai kegiatan yang dilakukan, mulai dari tidur, belajar, hingga bekerja.
Berikut ini adalah pengertian dan juga jenis jenis gelombang otak yang dimiliki manusia.
Penjelasan gelombang otak
Otak manusia adalah suatu bagian tubuh manusia yang terdiri atas miliaran sel saraf yang disebut neuron.
Neuron-neuron tersebut kemudian saling berkomunikasi untuk menjalankan berbagai fungsi otak, seperti pikiran, emosi, dan perilaku, proses komunikasi tersebut menghasilkan aktivitas listrik bergelombang yang membentuk pola tertentu.
Pola aktivitas listrik inilah yang dikenal dengan gelombang otak, atau bisa diartikan sebagai pola aktivitas listrik yang terjadi di otak dan berfungsi sebagai penghubung pesan antar sel, sehingga otak dapat bekerja sebagai pusat sistem saraf.
Aktivitas listrik otak mengalami perubahan perubahan sepanjang waktu, dari pola yang lambat hingga sangat cepat, tergantung pada tingkat kesadaran dan proses kognitif seseorang.
Contohnya, pada saat tubuh mengalami kelelahan atau sedang melamun, gelombang otak lambat akan lebih dominan.
Sebaliknya, jika otak digunakan untuk berusaha memecahkan masalah, gelombang cepat akan lebih menonjol.
Jenis-jenis gelombang otak manusia
Diketahui, terdapat lima jenis gelombang otak berdasarkan frekuensi atau kecepatan yang diukur dalam frekuensi Hertz (Hz).
Perbedaan frekuensi ini membuat setiap gelombang dominan pada saat aktivitas tertentu dilakukan.
1. Delta
Gelombang delta adalah gelombang otak yang paling lambat dengan frekuensi antara 1–4 Hz.
Gelombang tersebut muncul pada tahap tidur nyenyak tanpa mimpi atau saat meditasi.
Ketika otak sedang memproduksi gelombang delta secara dominan para ahli meyakini bahwa saat itu juga regenerasi dan penyembuhan sel terjadi.
Namun, kelebihan delta dapat menyebabkan gangguan belajar dan ADHD. Tidur berjalan serta mengigau juga sering dikaitkan dengan dominasi gelombang delta ini.
Pada penderita cedera otak, pola delta yang dominan saat tubuh sadar membuat mereka kesulitan melakukan tugas yang membutuhkan kesadaran penuh.
2. Theta
Gelombang theta memiliki frekuensi antara 4–8 Hz dan muncul saat tidur ringan, mengantuk, atau relaksasi.
Gelombang theta juga digunakan dalam hipnoterapi karena otak lebih reseptif ketika theta mendominasi.
Namun, kelebihan theta akan dapat menimbulkan perasaan tidak stabil dan melamun, hal tersebut sering dialami penderita ADHD.
Efek gelombang theta berbeda pada tiap bagian otak, terlalu banyak di belahan kiri dapat menyebabkan kurangnya organisasi, sedangkan dominasi di belahan kanan memicu perilaku impulsif.
Gelombang theta di hippocampus berhubungan dengan penyimpanan memori dan kemampuan mengingat.
3. Alfa
Gelombang alfa (8–12 Hz) muncul ketika seseorang terjaga tetapi tidak melakukan aktivitas.
Misalnya saat bersantai, baru bangun tidur, menjelang tidur, atau melamun. Gelombang alfa cenderung lebih tinggi di otak kanan, dan kekurangannya di area tersebut dikaitkan dengan depresi serta perilaku menarik diri.
Jika alfa melambat sementara theta meningkat, kondisi ini sering berhubungan dengan Parkinson dan penurunan fungsi kognitif.
Sebaliknya, aktivitas alfa yang seimbang dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, dan rasa sakit.
4. Beta
Gelombang beta memiliki frekuensi 12–38 Hz dan dominan saat seseorang fokus penuh, berpikir, atau mengambil keputusan.
Gelombang ini biasanya muncul di siang hari ketika otak aktif.
Namun, jika beta mendominasi terlalu lama, dapat menimbulkan ketegangan dan kesulitan untuk rileks.
Dominasi beta di malam hari bisa menyebabkan insomnia, pikiran sulit tenang, bahkan migrain.
5. Gamma
Gelombang gamma adalah yang tercepat dengan frekuensi 30–100 Hz.
Gelombang ini muncul saat otak berada dalam konsentrasi penuh dan aktivitas kognitif tingkat tinggi.
Gamma berhubungan dengan pemrosesan memori, bahasa, pembentukan ide, serta pembelajaran.
Aktivitas gamma yang tinggi sering dikaitkan dengan IQ tinggi, kemampuan mengingat luar biasa, kasih sayang, dan kebahagiaan.
Sebaliknya, rendahnya aktivitas gamma dapat menyebabkan kesulitan belajar, gangguan pemrosesan mental, dan keterbatasan memori. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama