RADARTUBAN – Berdasarkan penanggalan Hijriah yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, awal bulan Rajab 1447 Hijriah resmi dimulai pada Minggu(21/12).
Dengan masuknya bulan ini, umat Islam di seluruh dunia kini berada dalam salah satu fase waktu yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam ajaran Islam.
Bulan Rajab termasuk ke dalam empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan Allah SWT, bersama dengan bulan Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
Keistimewaan empat bulan ini telah disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an, di mana umat Islam dilarang melakukan peperangan serta dianjurkan untuk menjauhi segala bentuk perbuatan dosa.
Sebaliknya, setiap Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ibadah, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Salah satu keutamaan utama bulan Rajab adalah besarnya ganjaran pahala bagi setiap kebaikan yang dilakukan.
Para ulama sepakat bahwa amal ibadah yang dikerjakan pada bulan-bulan haram, termasuk Rajab, akan dilipatgandakan pahalanya, begitu pula dosa akan mendapatkan balasan yang lebih berat apabila dilakukan di waktu-waktu tersebut.
Asal-usul Penamaan Bulan Rajab
Jika ditelusuri lebih dalam, penamaan bulan Rajab memiliki makna yang sangat dalam dan sarat dengan nilai spiritual.
Dalam sebuah riwayat yang dinukil dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kata “Rajab” berasal dari kata tarjib, yang bermakna pengagungan dan penghormatan.
Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang alasan di balik penamaan bulan ini, beliau menjelaskan bahwa Rajab merupakan bulan yang dipenuhi dengan kebaikan dan kemuliaan, serta menjadi persiapan spiritual menuju bulan-bulan agung berikutnya, yaitu Syaban dan Ramadan.
قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ سُمِيَ رَجَبَ؟ قاَلَ: لِأَنَّهُ يَتَرَجَّبُ فِيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ لِشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ
Artinya: Dikatakan kepada Nabi Muhammad: Wahai utusan Allah! Mengapa dinamakan bulan Rajab? Beliau menjawab: Karena pada bulan tersebut terdapat banyak kebaikan yang diagungkan untuk menyambut bulan Syaban dan Ramadan. (HR. Imam Bukhari)
Keutamaan Bulan Rajab Menurut Hadits
Bulan Rajab memiliki sejumlah keutamaan besar yang dijelaskan dalam berbagai riwayat hadis.
Salah satunya berkaitan dengan ibadah puasa sunnah. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa di bulan ini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa di surga terdapat sungai khusus bernama Rajab, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa di bulan tersebut.
إِنَّ فِي الجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبَ مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبَ يَوْمًا وَاحِدًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ
Artinya: Sesungguhnya di surga terdapat sebuah sungai bernama Rajab. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut. (HR. Imam Baihaqi)
Selain itu, terdapat pula riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan ibadah puasa di bulan Rajab dan Syaban.
Meskipun beliau tidak pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain di bulan Ramadan, namun intensitas puasa beliau di dua bulan ini sangat tinggi.
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ لَمْ يَتِمْ صَوْمَ شَهْرٍ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا رَجَبُ وَشَعْبَانُ
Artinya: Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menyempurnakan puasa satu bulan penuh setelah Ramadan kecuali di bulan Rajab dan Syaban. (HR. Imam Thabrani)
Tidak hanya di siang hari, malam-malam di bulan Rajab pun dianjurkan untuk dihidupkan dengan berbagai ibadah, seperti salat malam, zikir, doa, serta membaca Al-Qur’an.
Bagi mereka yang menghidupkan malam Rajab dan berpuasa di siangnya, Allah SWT menjanjikan balasan berupa kenikmatan surga.
مَنْ أَحْيَا لَيْلَةَ رَجَبَ وَصَامَ يَوْمَهَا أَطْعَمَهُ اللهُ مِنْ ثِمَارِ الجَنَّةِ وَكَسَاهُ مِنْ خُضْرِ الجَنَّةِ وَسَقَاهُ مِنَ الرَّحِيْقِ المَخْتُوْمِ
Artinya: Barang siapa menghidupkan malam Rajab dan berpuasa di siang harinya, maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga, pakaian hijau dari surga, serta minuman yang harum dan murni. (HR. Ibnu al-Jauzi)
Rajab sebagai Momentum Persiapan Ramadan
Puasa dan ibadah di bulan Rajab juga memiliki nilai strategis sebagai sarana latihan fisik, mental, dan spiritual untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Dengan membiasakan diri beribadah sejak Rajab, seorang Muslim diharapkan mampu memasuki Ramadan dalam kondisi yang lebih siap, baik secara jasmani maupun rohani.
Sebagai penutup, Rasulullah SAW juga mengajarkan sebuah doa yang kerap beliau panjatkan ketika memasuki bulan Rajab, sebagai bentuk harapan agar diberi keberkahan dan umur panjang hingga bertemu Ramadan.
أَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadan.” (HR. Ahmad)
Dengan segala keutamaan yang dimilikinya, bulan Rajab menjadi momentum berharga bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta menata hati dalam menyongsong bulan suci Ramadan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni