Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

AI Menggerus Pekerjaan Kantoran, CEO Randstad Sarankan Kuasai Keahlian Ini

M Robit Bilhaq • Minggu, 11 Januari 2026 | 06:10 WIB
Ilustrasi pencari kerja di Job Fair
Ilustrasi pencari kerja di Job Fair

RADARTUBAN - Keyakinan lama bahwa menempuh jalur perguruan tinggi bisa menjamin untuk memasuki ranah profesional saat ini dianggap sudah tidak berlaku lagi.

Sander van 't Noordende, selaku CEO Randstad perusahaan rekrutmen global terbesar menyatakan bahwa saat ini ijazah sarjana tidak lagi menjadi garansi untuk mendapatkan pekerjaan, kondisi ini dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mulai mendominasi sektor pekerjaan kantoran.

Van 't Noordende menyoroti fenomena di mana jutaan pemuda dari generasi Z saat ini kesulitan mendapatkan pekerjaan, sementara banyak kaum milenial yang mulai merasa menyesal karena jalur karier mereka semakin menciut peluangnya.

Sebagai pimpinan institusi yang setiap pekannya menyalurkan sekitar setengah juta pekerja, Van’t memberikan peringatan bagi para lulusan baru yang mendambakan posisi kantor yang nyaman, menurut Van’t kesempatan kerja justru jauh lebih melimpah di bidang-bidang praktis seperti penyaji minuman (bartender dan barista), teknisi konstruksi, serta bidang keterampilan teknis lainnya.

Van’t menilai saat ini sektor pekerjaan kantoran dinilai tengah mengalami stagnasi, para pakar teknologi bahkan memperingatkan bahwa sekarang kemampuan AI telah menyamai level pekerja pemula dan diprediksi mampu memangkas hingga 50 persen posisi staf kantor pada tahun 2030.

Penelitian terbaru dari Stanford University juga memperkuat hal ini dengan menunjukkan bahwa dampak AI sangat besar dan tidak seimbang terhadap generasi Z, bahkan secara finansial, pertumbuhan upah bagi barista dan bartender tercatat lebih pesat dibandingkan dengan kenaikan gaji pegawai kantor.

Van 't Noordende mengungkapkan bahwa kebutuhan akan tenaga kerja ahli sangat tinggi, mulai dari mekanik, operator mesin, spesialis pemeliharaan, hingga pengemudi truk dan operator forklift.

Dalam wawancaranya dengan Fortune, Van’t menyarankan agar nasihat lama yang meminta anak muda sekadar mengikuti minat atau passion sebaiknya ditinggalkan karena sudah tidak relevan dengan kondisi ekonomi.

Saran yang lebih realistis menurutnya adalah dengan menguasai sebuah keahlian, keterampilan teknis, atau profesi spesifik yang mampu menjamin kesejahteraan diri sendiri dan keluarga, baginya, pendekatan tersebut jauh lebih masuk akal di era saat ini.

Bagi individu yang tetap memutuskan untuk kuliah, Van’t memberikan catatan bahwa bidang studi STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) tetap memiliki relevansi yang kuat.

Sementara itu, bagi mereka yang merasa latar belakang pendidikannya mulai kehilangan relevansi, van 't Noordende memberikan pesan untuk terus mengasah diri dan mempelajari kompetensi baru.

Baginya, berpindah haluan dari pekerjaan administratif di kantor menuju profesi seperti guru, perawat, atau tukang ledeng bukanlah sebuah tanda kegagalan, sebaliknya, hal tersebut adalah bentuk penyesuaian diri yang cerdas terhadap kenyataan ekonomi yang baru.

Van’t menegaskan bahwa langkah untuk berpindah profesi ke bidang yang lebih menjanjikan secara praktis bukanlah bentuk kekalahan, melainkan cara untuk beradaptasi dengan apa yang benar-benar memberikan hasil nyata. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Milenial #pemuda #Gen Z #Perguruan Tinggi #stanford university #sarjana #nganggur