RADARTUBAN - Istilah karawitan berasal dari kata "rawit" yang artinya rumit dan berbelit-belit. Namun, kata rawit juga memiliki arti halus, berliku-liku, dan enak.
Karawitan adalah sebuah keindahan dan kelembutan dalam seni musik gamelan yang dimainkan degan tangga nada (laras) pelog dan slendro.
Kamu mungkin pernah mendengar tentang kesenian karawitan. Biasanya kesenian ini ada di tempat-tempat tertentu yang masih kental dengan kebudayaan. Namun, nyatanya kesenian ini juga diajarkan di beberapa sekolah, bahkan menjadi ajang prestasi yang membanggakan.
Sebuah kesenian yang menarik, unik, dan dapat menjadi penghubung dengan leluhur ini tentu harus diketahui asal muasalnya dan sejak kapan kesenian ini dikenal oleh masyarakat.
Perkembangan Sejarah Karawitan
Berawal dari abad ke - 8 M, jejak karawitan sudah ada pada masa Kerajaan kuna. Ia digunakan dalam upacara-upacara keraton dengan pengaruh kuat dari budaya Hindu-Buddha.
Pada abad ke - 13 M hingga 18 M, kesenian ini menjadi bagian penting dan simbol kekuasaan, serta kebudayaan pada masa puncak kejayaan Majapahit.
Ini menunjukkan adanya perkembangan pesat pada pelestarian kesenian tersebut.
Selanjutnya, pada masa Kerajaan Mataram (Yogyakarta dan Surakarta), kesenian ini menjadi tonggak penting. Karawitan tidak hanya digunakan untuk upacara, tetapi juga mulai terbuka di kalangan masyarakat dan menjadi sarana hiburan.
Namun, di masa kini, kesenian karawitan justru menghadapi tantangan modernitas. Meski begitu, upaya konservasi dan pengembangan terus dilakukan melalui kreativitas dan pendidikan.
Fungsi dan Karakteristik
Karawitan awalnya dimainkan saat upacara di keraton, kemudian seiring waktu fungsinya bertambah, yakni sebagai hiburan, pengiring tarian, pertunjukan wayang, hingga ritual keagamaan.
Karawitan memiliki ciri khas, yakni menggunakan instrumen gamelan (gong, saron, bonang, dll) dengan nada-nada non-diatonis (pelog dan slendro) yang kemudian menciptakan harmoni halus, rumit, dan indah.
Karawitan menjadi lambang nilai-nilai luhur sperti harmoni, kelembutan, kesederhanaan, dan keselarasan yang dianggap penting dalam membentuk karakter bangsa.
Apakah kamu tertarik mempelajarinya? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama