Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dr Geofakta Razali Jelaskan Alasan Komentar Negatif Bisa Menghambat Kesuksesan

Rista Dwi Indarwati • Sabtu, 7 Februari 2026 | 07:05 WIB
Dr. Geofakta Razali dan Rory Asyari.
Dr. Geofakta Razali dan Rory Asyari.

RADARTUBAN – Sering kali langkah kita tiba-tiba terasa berat bukan karena rintangan fisik, melainkan karena komentar pedas dari orang lain.

Fenomena "khawatir dinilai" ini bukan sekadar emosi sesaat, tetapi memiliki dasar ilmiah.

Ahli Komunikasi Psikologi, Dr. Geofakta Razali, secara terbuka menjelaskan mengapa nyinyiran dapat menjadi "penghambat" bagi kemajuan seseorang.

Dalam pembicaraan menarik di saluran YouTube Rory Asyari (05/02), Associate Professor dari LSPR Jakarta ini menerangkan bahwa rasa sakit dari penilaian sosial (social pain) setara dengan sakit fisik.

"Otak kita memang dibuat untuk komparasi. Ketika kita merasa dikucilkan atau dinyinyiri, detak jantung meningkat dan otot tegang. Itu adalah reaksi fisik yang nyata," ujar Geofakta.

Lalu, bagaimana cara agar tetap tenang di tengah serangan komentar negatif dari netizen atau lingkungan?

Geofakta menekankan perlunya pengendalian diri melalui metode Somatic Flow. Ia menyarankan agar kita tidak langsung reaktif saat menerima kritik pedas.

“Srep back dulu, Tarik napas, dan tunggu minimal lima detik agar nalar kita jalan. Emosi itu mengalir lebih dulu daripada logika,” jelas pria yang juga seorang konselor bersertifikat ini.

Selanjutnya, ia membagikan tips ampuh untuk menyaring komentar mana yang patut diperhatikan.

Intinya terletak pada konsep Let Them (biarkan mereka) dan Let Me (biarkan aku).

Menurutnya, kita harus tegas menetapkan batasan (boundary). Jika kritik berasal dari orang yang tidak kompeten atau hanya ingin merendahkan, maka yang terbaik adalah mengabaikannya.

"Biarkan mereka dengan nilai-nilainya sendiri, dan biarkan aku tetap melangkah maju. Jangan sampai kita mencari validasi dari orang yang bahkan tidak tahu perjuangan kita," tegas dosen yang dikenal dengan gaya nyentriknya ini.

Geofakta juga menyoroti risiko oversharing atau terlalu banyak membagikan rencana di media sosial.

Hal ini sering menciptakan "ilusi kemajuan" di mana seseorang merasa telah mencapai sesuatu padahal baru sebatas bicara.

Bagi masyarakat yang ingin berkembang, Geofakta memberikan satu kata kunci: Resilience atau ketangguhan.

"Berani bukan berarti tidak takut, tetapi berani memilih apa yang pantas kita takuti. Jika hanya nyinyiran tanpa dasar, mengapa harus didengarkan?" ujar Geofakta. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#otak #sosial #emosi #fisik #fenomena