Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penjualan Kondom di Indonesia Naik Dua Digit, Dipicu Tren Tunda Kehamilan

M Robit Bilhaq • Minggu, 15 Februari 2026 | 21:05 WIB
Ilustrasi kondom.
Ilustrasi kondom.

RADARTUBAN - Angka penjualan alat kontrasepsi kondom di Indonesia menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan hingga menyentuh angka dua digit dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan.

Berdasarkan data dari DKT Indonesia, yang merupakan distributor utama alat kontrasepsi nasional, tren peningkatan tersebut muncul di tengah maraknya fenomena pasangan muda yang memilih untuk menunda kehamilan atau bahkan memutuskan untuk tidak memiliki keturunan.

Michael Suwito, selaku Group Brand Manager DKT Indonesia, menjelaskan bahwa pertumbuhan penjualan terus bertahan secara konsisten, walaupun dirinya mengakui bahwa tingkat penetrasi produk ini di pasar secara keseluruhan sebenarnya masih terhitung rendah.

Dalam sebuah forum diskusi bertajuk kampanye 'Mau Kalau Pakai Kondom' di Jakarta pada Jumat, (13/2), Suwito mengungkapkan bahwa perusahaannya masih terus merasakan pertumbuhan sebesar dua digit selama periode beberapa tahun terakhir ini.

Akan tetapi, Suwito juga memberikan catatan bahwa skala penggunaan kondom di tingkat nasional masih sangat minim.

Suwito menilai ada beragam faktor penghalang yang membuat edukasi serta proses pembelian produk ini menjadi sulit, mulai dari aspek budaya dan agama, adanya tekanan sosial di masyarakat, hingga masih melekatnya stigma negatif mengenai seks bebas.

Bahkan Suwito menceritakan realitas di lapangan di mana banyak pembeli yang masih merasa sungkan saat harus membeli kondom secara langsung di gerai ritel.

Suwito menggambarkan situasi di mana konsumen sering kali menunggu suasana toko benar-benar sepi, atau bahkan sengaja menutupi produk kondom yang dibeli dengan camilan lain agar tidak tertangkap oleh pandangan orang sekitar.

Yang menarik adalah, DKT Indonesia tidak mencatat terjadinya lonjakan penjualan yang drastis pada saat perayaan Hari Valentine.

Hal ini cukup berbeda jika dibandingkan dengan kondisi di negara-negara Barat, di mana hari kasih sayang tersebut biasanya identik dengan kenaikan aktivitas seksual yang signifikan.

Namun, di balik tren pertumbuhan yang ada, pemahaman masyarakat akan pentingnya seks aman dinilai mulai merangkak naik seiring dengan semakin terbukanya arus informasi melalui platform media sosial.

Menurut Suwito, perusahaan melihat bahwa langkah-langkah edukasi masih sangat perlu untuk diperluas jangkauannya.

Hal ini bertujuan agar angka kehamilan yang tidak diinginkan serta risiko penyebaran infeksi menular seksual dapat ditekan seminimal mungkin.

Pada kesempatan yang sama, Clinical Training Manager DKT Indonesia, dr. Erika Indrajaya, menekankan bahwa penggunaan kondom memiliki peran vital dalam kesehatan masyarakat.

Erika menjelaskan bahwa kegunaan kondom sebenarnya mencakup tiga fungsi utama selain sebagai pencegah kehamilan, kondom juga berfungsi melindungi individu dari bahaya infeksi menular seksual termasuk HIV, serta dapat menunjang kenyamanan hubungan seksual berkat adanya kemajuan teknologi pada berbagai varian produk yang ada.

Selain itu, dr. Erika juga memperingatkan terkait kebiasaan sebagian pasangan yang masih sering mengandalkan metode "keluar di luar" atau withdrawal sebagai cara mencegah kehamilan.

Erika menegaskan bahwa metode tersebut memiliki tingkat kegagalan yang cukup tinggi.

Jika tidak dilakukan dengan akurasi yang tepat, risiko kegagalan metode tersebut mencapai 18 persen hingga 20 persen, yang artinya 1 dari setiap 5 pasangan yang menggunakan cara tersebut tetap berisiko mengalami kehamilan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kondom #pasangan muda #agama #Indonesia #budaya