RADARTUBAN - Fenomena money dysmorphia kini membayangi generasi muda, terutama Gen Z, yang hidup di tengah gempuran standar gaya hidup mewah di media sosial.
Kondisi psikologis ini menciptakan jarak antara realitas finansial dan persepsi diri—seseorang merasa terus-menerus kekurangan secara materi, padahal secara objektif kondisi keuangannya stabil dan mencukupi.
Layaknya gangguan citra tubuh, persepsi tersebut membuat individu merasa tertinggal dan gagal ketika membandingkan diri dengan pencapaian finansial orang lain yang tampil di linimasa.
Kerentanan kaum muda terhadap fenomena ini dipicu oleh tekanan eksternal maupun internal.
Paparan gaya hidup glamor para influencer, ketidakpastian ekonomi global, serta lonjakan biaya hidup memperkuat kecemasan terhadap kondisi keuangan.
Di saat yang sama, muncul beban mental untuk meraih kesuksesan secara instan, sehingga nilai diri kerap diukur dari angka dalam rekening.
Kondisi ini tidak jarang berujung pada kecemasan kronis, ketidakmampuan menikmati hasil kerja keras, hingga perilaku finansial berisiko—seperti memaksakan gaya hidup di luar kemampuan demi menutupi rasa minder.
Money dysmorphia menjadi cerminan tantangan mental dan emosional yang dihadapi generasi muda di tengah tekanan sosial dan ekonomi.
Menyadari bahwa standar “cukup” setiap orang berbeda merupakan langkah awal untuk keluar dari jebakan ini.
Alih-alih terus membandingkan diri, fokus pada progres pribadi dan pengelolaan keuangan yang bijak menjadi kunci utama. (saf/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama