Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Sekadar Mendengar, Ini Rahasia Jadi Pendengar yang Disukai

Lailatul Khusna Febriyanti • Jumat, 17 April 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi orang yang sedang   curhat dengan temanya. (FREEPIK)
Ilustrasi orang yang sedang   curhat dengan temanya. (FREEPIK)

RADARTUBAN – Menjadi pendengar yang baik ternyata bukan sekadar memiliki telinga yang berfungsi normal.

Banyak orang merasa sudah memberikan respons terbaik saat dicurhati teman, namun tanpa disadari justru membangun "tembok" yang membuat lawan bicara enggan terbuka kembali.

Hal ini menjadi pembahasan hangat dalam tayangan terbaru di kanal YouTube Ruang Tunggu bersama psikiater dr. Andreas Kurniawan dan praktisi komunikasi Dea.

Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa sering kali kesalahan komunikasi terjadi karena seseorang lebih fokus mencari jawaban daripada memahami perasaan lawan bicaranya.

Baca Juga: Rahasia Orang Tenang: Bukan Bakat, Tapi Kebiasaan Kecil yang Konsisten di Pagi Hari

"Kebanyakan orang mendengarkan in order to reply, not to understand. Ketika menyimak, jangan mikir 'gua harus jawab apa ya'. Coba untuk mengerti saja," ujar dr. Andreas menekankan pentingnya empati .

Beda Hearing dan Listening

Banyak yang salah kaprah menganggap mendengar (hearing) dan mendengarkan (listening) adalah hal yang sama. Padahal, mendengarkan secara aktif (active listening) membutuhkan keterlibatan kepala, telinga, hingga hati.

Dea menjelaskan bahwa dalam lingkungan profesional maupun personal, kehadiran penuh jauh lebih dihargai daripada sekadar menawarkan solusi instan.

"Kalau mendengar kita cuma butuh telinga saja. Tapi kalau mendengarkan, ada kepala, kuping, dan hati juga di situ. Active listening skill itu butuh dilatih karena kita dipaksa memposisikan diri hadir penuh di depan lawan bicara," terang Dea dalam narasinya.

Jangan Terjebak "Adu Nasib"

Salah satu kebiasaan buruk yang sering mematikan obrolan adalah kecenderungan untuk membandingkan penderitaan atau "adu nasib".

Alih-alih merasa divalidasi, orang yang bercerita justru akan merasa spotlight atau fokus pembicaraan direbut. dr. Andreas menyarankan teknik "refleksi isi" dan "refleksi perasaan" sebagai solusi.

"Refleksi isi itu kita mengulangi apa yang dia sampaikan. Misalnya dia bilang 'pasanganku mengkhianatiku', kita cukup respons 'pasanganmu mengkhianatimu?' Biarkan dia mengeksplorasi itu sendiri tanpa kita harus berpikir kata-kata indah untuk menasihati," jelas dokter spesialis kedokteran jiwa tersebut .

Etika Gestur dan Komunikasi Digital

Tak hanya kata-kata, gestur tubuh juga memegang peranan vital. Dea mengingatkan tentang bahaya triple noding atau anggukan tiga kali yang terlalu cepat.

Menurutnya, anggukan yang terlalu cepat justru mengomunikasikan kesan terburu-buru atau bosan, seolah-olah meminta lawan bicara segera berhenti bicara .

Baca Juga: 8 Kebiasaan di Facebook yang Langsung Menandai Anda sebagai Generasi “Tua” dan Membuat Orang Lain Tersenyum Geli

Di era digital, tantangan mendengarkan beralih ke pesan teks. Karena teks tidak memiliki nada, dr. Andreas mengingatkan pentingnya penggunaan emotikon atau penjelasan tambahan untuk menghindari asumsi negatif.

"Yang sah adalah apa yang diterima oleh orang tersebut, bukan apa yang kita maksudkan. Itulah fungsinya ada emotikon untuk membantu mengemas pesan," pungkasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#email #psikologi #pendengaran #Tema