Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Marriage is Scary, Konselor Tekankan Pentingnya Kesiapan Mental Sebelum Menikah

Lailatul Khusna Febriyanti • Minggu, 19 April 2026 | 18:03 WIB
Ilustrasi orang menikah. (Freepik)
Ilustrasi orang menikah. (Freepik)

RADARTUBAN – Isu ketahanan keluarga kini menjadi perhatian serius di tengah gempuran arus informasi digital.

Menanggapi fenomena marriage is scary yang sempat viral di media sosial, konselor keluarga senior Rani Anggrini Dewi menekankan pentingnya meluruskan niat dan kesiapan mental sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Menurutnya, pernikahan bukanlah sebuah kewajiban absolut, melainkan sebuah pilihan hidup yang memerlukan refleksi mendalam.

Dalam sebuah diskusi hangat, Rani mengungkapkan bahwa banyak perempuan terjebak dalam penyesalan setelah menikah karena merasa pengembangan dirinya terhenti.

Baca Juga: 10 Hal yang Sering Dilakukan Wanita yang Belum Siap Menghadapi Realitas Pernikahan

Fokus yang melulu tersedot pada peran domestik seringkali menjadi penghambat bagi perempuan dalam meraih cita-citanya.

"Jangan sampai menikah itu menghalangi tujuan hidup kamu. Karena tidak sedikit wanita yang kemudian menyesal ketika dia menikah karena semua urusan di dalam keluarga dan pernikahan menghambat dia," ujarnya dalam narasinya yang dikutip dari kanal YouTube Suara Berkelas.

Persiapan Anak Laki-Laki yang Sering Terlupakan

Salah satu poin krusial yang disoroti oleh Rani adalah ketimpangan pola asuh antara anak perempuan dan laki-laki.

Saat ini, banyak orang tua sudah memiliki kesadaran tinggi untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak perempuannya, bahkan hingga ke luar negeri.

Namun, di sisi lain, mereka seringkali lupa menyiapkan kemandirian dan mentalitas anak laki-lakinya untuk menjadi pasangan yang suportif.

"Para orang tua yang sudah punya awareness untuk memberikan pendidikan kepada anak perempuannya lebih baik, tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya. Buktinya, begitu mereka menikah, anak laki-laki itu pikirannya masih seperti dulu, kalau suami itu harus dilayani," tegasnya.

Dia menganalogikan hubungan suami istri layaknya pilot dan copilot. Keduanya duduk berdampingan dengan potensi yang sama, di mana copilot harus selalu siap menggantikan peran jika diperlukan.

Pentingnya Menanamkan Value di Dalam Keluarga

Bagi Rani, keluarga adalah pilar bangsa dan tempat utama untuk menitipkan nilai-nilai (values) kemanusiaan kepada generasi penerus.

Warisan terbaik yang bisa diberikan orang tua bukanlah harta benda yang melimpah, melainkan integritas dan karakter yang dicontohkan secara langsung.

Baca Juga: Syifa Hadju Tampil Bahagia di Bridal Lunch Jelang Pernikahan dengan El Rumi

Dia menyebutkan tiga peran utama orang tua dalam keluarga, yakni sebagai fasilitator, motivator, dan pendoa (prayer). Nilai-nilai seperti kejujuran dan rendah hati tidak bisa hanya diajarkan melalui ceramah, melainkan harus disaksikan langsung oleh anak melalui perilaku orang tuanya sehari-hari.

"Nilai itu tidak bisa diceramahi, tidak bisa dikuliahkan. Anak-anak harus menyaksikan nilai itu hidup melalui perilaku orang tuanya," pungkas konselor yang telah menjalani pernikahan selama 44 tahun tersebut. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#scary #pernikahaan #konseling nikah #Marriage is Scary